Hadiri Dies Natalies UI ke-68, Jokowi diberi “kartu kuning” oleh mahasiswa. (ilustrasi/aktual.com)

Jakarta, Aktual.com – Pemerhati politik dari Universitas Indonesia Donny Gahral Adian mengatakan kampus harus bebas dari politik praktis.

Meskipun demikian, ia tidak mempermasalahkan jika ada kandidat Calon Presiden (Capres) atau Calon Wakil Presiden (Cawapres) yang datang ke kampus untuk berdebat maupun membedah gagasannya secara akademis.

“Itu boleh, hal itu juga dilakukan di Amerika Serikat,” ujar Donny di Jakarta, Kamis (8/11).

Namun, tegasnya, kandidat tersebut tidak boleh datang bersama tim kampanye dan menggunakan atribut universitas.

Donny menyayangkan peristiwa dukungan yang diberikan oknum mengatasnamakan Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) yang mendeklarasikan dukungan pada pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Pasalnya deklarasi tersebut menggunakan logo UI Makara dan membawa nama UI.

Menurut Donny, hal itu bertentangan dengan surat edaran rektor yang menyatakan logo dan nama UI tidak boleh digunakan untuk kegiatan politik praktis. UI adalah pencerah, penerang, dan marwahnya melahirkan kecerdasan.

“UI merupakan rumah cendekiawan, dan benteng akal sehat bangsa kita. Jadi yang diproduksi UI adalah kecerdasan bukan kekuasaan,” kata dia.

Menurut dia, penggunaan nama dan logo UI merupakan suatu penghinaan terhadap akal sehat, termasuk jika hal tersebut dilakukan oleh kubu Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin sekalipun.

Untuk itu, dia meminta Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) untuk mengambil tindakan tegas, agar kampus tidak dilibatkan dalam politik praktis.

“Dukung-mendukung sebenarnya hak pribadi, tapi tolong jangan gunakan logo dan nama UI,” kata Donny yang juga pengurus Iluni UI itu.

Ant.

(Teuku Wildan)