(ilustrasi/aktual.com)
Jakarta, aktual.com – Sejak September dimulainya masa kampanye yang ditentukan komisi pemilihan umum (KPU) RI dalam pemilihan presiden (Pilpres) 2019 hingga 13 April 2019 terus dimanfaatkan oleh dua kubu pasangan calon (Paslon) untuk melakukan kerja politik menjaring suara rakyat Indonesia nanti.
Sejumlah dinamika kerja politik dan slogan dari pemaparan program berkelanjutan yang ditawarkan Paslon petahana yakni Joko Widodo- Ma’ruf Amin terus digaungkan. Tidak luput, program Paslon penantang Prabowo Subianto-Sandiaga pun tidak mau kalah dengan memaparkan program perbaikan.
Akan tetapi, justru banyak yang menilai di tiga bulan masa kampanye Pilpres 2019 tidak memberikan ‘greget’ bagi para rakyat Indonesia, tentang bagaimana Indonesia kedepannya?. Saling saut menyaut antar kandidat bak berbalas pantun justru lebih dominan menghiasi pemberitaan di media massa maupun media sosial (Sosmed).
Pada Agustus kemarin, atau sebelum adanya penetapan calon presiden dan calon wakil presiden, Wakil ketua dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fahri Hamzah menilai saat ini belum ada calon presiden untuk Pilpres 2019 yang memiliki kekuatan dalam membawa Indonesia ke arah yang benar.

“Belum ada yang sangat greget. Jadi ditinjau berbagai besarnya persoalan kita itu belum ada yang berbicara kuat untuk menentukan arah kita yang benar,” kata Fahri di kompleks Parlemen, Senayan, Selasa (7/8/2018).

Ia pun ketika itu sempat meminta kepada masyarakat untuk terlebih dahulu menagih gagasan atau ide para Capres yang akan maju di Pilpres 2019. Para calon pemimpin bangsa itu harus menjelaskan secara rinci konsep dalam membangun Indonesia yang lebih baik.

“Harusnya kita tagih orang itu suruh bicara dari sekarang apa idenya,” tegasnya.

Berselang waktu tidak terlalu lama, politikus PKS itu pun kembali geram dengan kondisi masa kampanye Capres-Cawapres di Pilpres 2019 yang cenderung tidak beradu gagasan ataupun konsep dalam membawa Indonesia ke depan.

Justru selama kurang lebih tiga bulan terakhir, yang dipertunjukkan dalam masa kampanye justru diwarnai olok-olokan yang saling balas membalas masing-masing kandidat.

Fahri mengatakan, tantangan kedua Paslon baik petahana maupun penantang sama-sama berat dan besar.

“Akhirnya, yang jadi pertanyaan rakyat “kalau sampeyan berkuasa kami dapat apa? Belum terjawab,” kata Fahri Hamzah melalui pesan singkat yang diterima wartawan, Rabu (14/11).
Padahal, sambung Fahri, maksud awal kenapa waktu kampanye di perpanjang dari hanya 3 bulan menjadi hampir 8 bulan itu, agar rakyat lebih mengerti kandidatnya mau ke mana.
“Tapi malah saya melihat, kedua kandidat kelihatan sempoyongan dan serangan mereka mulai tidak terarah. Di tengah itu ada ancaman penggunaan sumber daya negara yang seharusnya netral,” terang anggota dewan asal Dapil NTB itu.
Tidak hanya itu, Fahri mencoba melihat tantangan besar yang dihadapi kedua kandidat. Seperti, tantangan bagi pasangan calon (Paslon) nomor urut 01 Jokowi (petahana), yang harus menjawab kepada rakyat Indonesia tentang janji dan dugaan dusta selama dirinya memimpin Indonesia pasca Pilpres 2014 lalu.
“Sementara, tantangan yang dihadapi Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto, menjawab tuduhan dari masa lalu, saat dirinya menjadi Danjen Koppassus dalam kasus dugaan penculikan sejumlah aktivis saat Reformasi bergulir,” ujarnya.
Jika semua fokus mau apa ke depan, sambung Fahri, maka tim Jokowi tentu melanjutkan program dan membelanya. Begitu pula dengan tim Prabowo melakukan kritik koreksi dan tawaran alternatif ke depan, tentunya tidak saja seru dan mencerdaskan, tetapi juga manfaat bagi rakyat.
Karena itu, Fahri Hamzah mendesak KPU sebagai penyelangara Pemilu agar kreatif dalam membuat aturan permainan, sehingga lebih menarik dan edukatif bagi rakyat.
“Demokrasi adalah permainan dinamis dan kadang keras tapi tidak berbahaya,” pungkasnya.
Kualitas di Pilpres 2019 Rendah?

(Novrizal Sikumbang)