Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar, memaparkan terkait Peraturan Menteri (Permen) Nomor 52 tentang Perubahan Permen Nomor 8 tentang Kontrak Bagi Hasil Gross Split,di Kementerian ESDM, Jalan Merdeka Selatan, Jum'at, (6/9). AKTUAL/WARNOTO
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar, memaparkan terkait Peraturan Menteri (Permen) Nomor 52 tentang Perubahan Permen Nomor 8 tentang Kontrak Bagi Hasil Gross Split,di Kementerian ESDM, Jalan Merdeka Selatan, Jum'at, (6/9). AKTUAL/WARNOTO

Jakarta, Aktual.com – Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar menjelaskan bahwa investor Amerika Serikat, mengapresiasi skema bagi hasil atau “Gross Split” yang diterapkan di Indonesia.

“Mereka pada dasarnya mengapresiasi, baik Gross Split maupun penyederhanaan perizinan yang saat ini sedang diterapkan di Indonesia,” kata Wamen Arcandra di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (13/3).

Arcandra menyebutkan utamanya Murphy Oil yang terlihat antusias dengan iklim investasi minyak dan gas bumi (migas) yang sedang ia promosikan.

“Kalau langkah nyata memang belum ada, tapi kebanyakan menyatakan ingin mempelajari lebih lanjut mengenai penyederhanaan perizinan, karena memang baru-baru saja diumumkan,” kata Arcandra.

Dalam rangka menawarkan investasi Skema Gross Split dan reformasi perizinan migas Indonesia, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar sebelumnya melakukan kunjungan kerja ke Houston, Texas, Amerika Serikat. Pada kunjungan yang berlangsung sejak tanggal 6 Maret 2018 ini, ia bertemu pimpinan perusahaan minyak dan gas bumi (migas), menjadi pembicara tunggal di CERAWeek, menjadi Panelis dalam Ministerial Dialogue hingga menjadi pembicara di Rice University’s Baker Institute for Public Policy.

Arcandra juga bertemu Chief Operating Officer (COO) British Petroleum (BP) North Amerika, William Lin, di kantor BP. Saat bertemu dengan William Lin, Arcandra menyampaikan tentang 26 Wilayah Kerja (WK) Minyak dan Gas Bumi (Migas) yang baru saja dilelang pertengahan bulan Februari 2018 lalu. Dalam pertemuan tersebut BP dengan advanced technology-nya, tertarik melihat potensial WK di Indonesia. Pada kesempatan ini, BP juga menunjukan value creation dari investasi mereka yang sebesar 1 triliun untuk Pengembangan digital technology, high performance computing center, yang mendukung pengembangan bisnis BP.

Usai pertemuan tersebut, Arcandra menuju kantor Murphy Oil untuk bertemu dengan Chief Executive Officer (CEO) Murphy Oil, Roger Jenkins. Dalam pertemuan ini, Roger Jenkins menyampaikan apresiasi terhadap pemerintah Indonesia yang telah melakukan reformasi peraturan yang atraktif bagi investor. Perubahan kebijakan fiskal dan penghapusan sejumlah peraturan di kementerian ESDM telah menjadikan Indonesia semakin ramah bagi investor.

“CEO Murphy juga akan mereview kembali portofolio investasi mereka, termasuk penawaran 26 wilayah kerja yang baru di buka di Indonesia. Ini adalah langkah positif mengingat Murphy telah keluar dari investasi di Indonesia pada 2015 lalu,” jelas Arcandra.

Arcandra kemudian melanjutkan pertemuan dengan Kontraktor migas lainnya, yaitu, ExxonMobil dan ConocoPhilips.

Sebagaimana pertemuan dengan BP dan Murphy, dalam setiap diskusi dengan para eksekutif perusahaan minyak global, mereka sangat antusias dan terkejut mendengar penjelasan Arcandra mengenai berbagai perubahan yang lakukan kementerian ESDM, terutama berkaitan dengan kebijakan fiskal yang baru yaitu sistem PSC Gross Split.

“Setelah mendengarkan paparan dan diskusi secara mendalam dengan kita, para eksekutif minyak global ini menyambut aturan baru ini secara positif. Mereka juga akan mereview kembali rencana investasinya di Indonesia,” jelas Arcandra.

Dalam setiap kunjungan ke perusahaan minyak global ini, Arcandra juga selalu menjelaskan tiga prinsip utama dari skema gross split yaitu kepastian, efisien dan sederhana.

“Dengan gross split investor akan memperoleh kepastian karena pembaguan split dilakukan secara transparan dan terukur. Parameter jelas yaitu ditentukan berdasarkan karakteristik lapangan serta kompleksitas pengembangan dan produksi,” jelasnya.

Skema gross split juga menciptakan efisiensi baik kepada pemerintah maupun investor. Karena biaya pengembangan blok menjadi tanggungjawab investor, maka investor harus mampu mengelola pembiayaan secara mandiri agar investasinya mendapatkan hasil optimal. Pemerintah juga tidak perlu mengeluarkan dana dari APBN untuk membiayai produksi migas.

“Gross split menciptakan kesederhanaan dari aspek persetujuan penganggaran, pengadaan, serta akuntabilitas. Pemerintah juga tidak perlu membuang banyak tenaga untuk melakukan pengawasan anggaran,” ujar Arcandra.

Selain menjelaskan skema PSC Gross Split, Arcandra juga menyampaikan tentang reformasi perizinan di bidang migas.

Kementerian ESDM telah menyederhanakan/mencabut 186 regulasi/perizinan, dimana terkait migas, 33 regulasi telah dicabut dan perizinan yang dicabut adalah sebanyak 23 buah. Reformasi perizinan ini tidak lain untuk menumbuhkan iklim yang ramah bagi pebisnis dan investor.

ANT