Presiden Joko Widodo (ketiga kiri) menyambut Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al-Saud (ketiga kanan) saat tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (1/3). Kunjungan kenegaraan Raja Salman pada 1-9 Maret ke Indonesia diharapkan menjadi momentum untuk mendorong investasi dari Timur Tengah. ANTARA FOTO/Setpres/Agus Suparto/wsj/kye/17.

PRESIDEN JOKOWI kesal terhadap rendahnya investasi Arab Saudi di Indonesia dibandingkan Tiongkok sampai menyebutnya dua kali dalam seminggu ini. Pertama saat di Pesantren Buntet dan kedua ketika beliau meresmikan masjid di Daan Mogot. Tentu hal tersebut boleh saja dilakukan beliau sebagai Presiden.

Sebagai manusia, Jokowi juga tidak dilarang memiliki rasa tersebut. Kesal adalah sebuah bentuk kekecewaan yang wajar jika tujuan kita tidak tercapai. Kesal juga yang seringkali menutup mata kita terhadap apa yang kita kerjakan selama ini.

Jokowi mungkin merasa bahwa penyambutan meriah raja Salman kemarin harus berbanding lurus dengan investasi dari Arab Saudi. Tetapi apakah rasa kesal Jokowi itu pantas dengan kondisi hubungan ekonomi Indonesia dan Arab Saudi? Demi menjawab hal tersebut ada beberapa indikator yang dapat dilihat seperti hubungan perdagangan dan investasi.

Menurut data dari Badan Pusat Statistika Indonesia, neraca perdagangan Indonesia dan Arab Saudi selalu defisit. Penyebab utama adalah kebutuhan minyak bumi Indonesia tidak dapat ditutupi oleh usaha pemerintah memproduksi sehingga harus impor dari negara lain termasuk Arab Saudi.

Minyak bumi adalah faktor tersulit Indonesa untuk mencapai surplus dalam hubungan perdagangan tetapi adakah positifnya?

Hal positif yang dapat menjadi acuan pemerintah adalah neraca perdagangan barang non-migas Indonesia selalu unggul dari Arab Saudi. Kondisi ini juga ditopang dari sumber kekayaan alam Indonesia yang besar. Meskipun sumber daya alam yang dimiliki Indonesia tersebut tidak dapat menutupi impor minyak dari Arab Saudi yang selalu tinggi.

(Soemitro)