Petugas dari Kementerian Agama Kabupaten Jombang mengamati posisi hilal (bulan) saat "rukyatul hilal" untuk menentukan Idul Fitri 1 Syawal 1437 Hijriyah di Satradar 222 Ploso di Kabuh, Jombang, Jawa Timur, Senin (4/7). Hasil "rukyatul hilal" di Jombang yaitu posisi hilal pada -1 derajat, 6 menit 01 detik atau masih di bawah ufuk. ANTARA FOTO/Syaiful Arif/kye/16

Jakarta, Aktual.com – Indonesia diminta untuk segera mengadopsi kalender Islam Global guna tidak lagi menghadapi ketidakpastian yang selalu hadir setiap menjelang bulan Ramadan tiba. Desakan ini dilontarkan oleh Ketua Islamic Science Research Network (ISRN) Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka), Tono Saksono.

“Sudah banyak software-nya dan bisa diunduh di Google, seperti accurate time dan lain-lain,” kata Tono di sela Pelatihan Hisab Pimpinan Cabang Muhammadiyah se-DKI di Jakarta, Sabtu (17/6).

Menurut Tono, kalender hijriah global ini telah disepakati oleh puluhan negara Islam yang tersebar di seluruh dunia. Kesepakatan untuk menggunakan kalender Hijriah Global tersebut dicapai dalam Kongres Penyatuan Kalender Hijriah Internasional yang digelar di Istanbul, Turki, pada 28-30 Mei tahun lalu.

“Kalender Islam Global tersebut tentu menggunakan metode hisab (perhitungan),” katanya.

Lebih lanjut, metode rukyatul hilal (mengamati bulan sabit) untuk menentukan awal bulan tidak dapat terus-terusan digunakan karena akan terus membuat umat selalu mengulangi rukyat setiap bulannya. Padahal, lanjutnya, kalender Hijriah sudah ada sejak masa Rasulullah SAW hidup berabad-abad silam.

“Setiap akhir bulan kita harus merukyat lagi, merukyat lagi untuk tentukan awal bulan. Lalu kalau tidak sesuai dianulir (dianggap tidak sah). Jadi kapan umat Islam punya kalender hingga 500 tahun ke depan, misalnya,” katanya.

Ia menegaskan bahwa penggunaan kalender Masehi yang memiliki selisih 11,5 hari dari kalender Hijriyah dapat menyebabkan umat Islam memiliki zakat terutang sebesar 5 triliun dolar AS selama 500 tahun ke depan.

Selain itu, ia juga menyebut penggunaan metode rukyatul hilal dapat membuat perbedaan waktu yang akan semakin mencolok. Ia mencontohkan pada awal Ramadhan 2024, yaitu 10 Maret, Indonesia akan memulai puasa 13 jam lebih lambat dari pada Meksiko.

Padahal pada Ramadhan taun ini, Indonesia berpuasa 13 jam lebih awal dari Meksiko, terlebih Indonesia berada di dunia sisi timur.

“Dengan kalender bersifat lokal, bahkan termasuk menggunakan kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) penentuan awal bulan dalam Islam jadi kacau. Jadi memang harus bersifat global,” katanya.

Sementara itu, pengamat dari Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB Pranoto H Rusmin berpendapat bahwa metode rukyatul hilal yang digunakan selama ini mengacu pada ayat Al Qur’an, yaitu surat Al Baqoroh ayat 185 dan 189.

“Tapi ada kelemahannya, yakni tafsir yang tidak akurat serta pemahaman yang parsial. Ini memang terkait sekali dengan pemahaman umat terhadap suatu ayat,” pungkasnya.

(Teuku Wildan)

(Soemitro)