BAGIKAN

Jakarta, Aktual.com – Mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, membahas tugasnya membujuk masyarakat untuk sadar dan mengubah pikiran mereka pada Brexit, dengan alasan bahwa pilihan meninggalkan Uni Eropa adalah ancaman bagi masa depan negara tersebut.

Perdana menteri saat ini, Theresa May, berikrar menjalankan Pasal 50 dan memulai upaya meninggalkan Uni Eropa pada bulan depan dan menegaskan pandangannya mengenai pelepasan dari kelompok tersebut secara lancar, termasuk meninggalkan pasar tunggal.

Dia juga memperingatkan politisi pengganggu pelepasan tersebut.

Namun, dalam campur tangan politik pertamanya sejak pemungutan suara Brexit pada Juni, Blair akan mengeluarkan seruan pada Jumat (17/2) waktu setempat, untuk menentang Brexit dengan mengatakan ada sedikit kejelasan terhadap makna pemungutan suara ketika referendum berlangsung dan bahwa pemerintah memang disiapkan mewujudkan Brexit.

“Orang memilih tanpa pengetahuan benar mengenai Brexit. Saat istilah ini sudah dipahami, maka akan menjadi hak mereka untuk mengubah pikiran. Misi kami adalah membujuk mereka melakukannya,” kata Blair yang akan menyampaikan gagasannya kepada kelompok pro-Eropa, Open Britain, dilansir dari Reuters, Jumat.

Blair, yang menjabat sebagai Perdana Menteri pada tahun 1997-2007, mengatakan bahwa salah satu risiko Brexit yaitu isu perpecahan Inggris sekarang kembali mengemuka.

Dia akan mengatakan bahwa sementara Skotlandia menolak kemerdekaan di tahun 2014, keadaan bagi kaum nasionalis saat ini jauh lebih jelas.

Skotlandia dipilih oleh 55-45 persen untuk tetap menjadi bagian dari Inggris pada September 2014, namun Partai Nasional Skotlandia, yang pro-Eropa, berpendapat bahwa keputusan Brexit membuka kembali pertanyaan mengenai kemerdekaan karena kebanyakan warga Skotlandia memilih tetap berada di Uni Eropa.

 

Ant.

(Zaenal Arifin)