BAGIKAN
Maulana Syekh Yusri Rusydi Jabr Al Hasani dalam acara pembacaan kitab amin al-I'lam bi anna attasawwuf min syariat al-islam karangan syekh Abdullah Siddiq al-Ghumari di Majelis Zawiyah Arraudah, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (28/1/2017). AKTUAL/Tino Oktaviano
Maulana Syekh Yusri Rusydi Jabr Al Hasani dalam acara pembacaan kitab amin al-I'lam bi anna attasawwuf min syariat al-islam karangan syekh Abdullah Siddiq al-Ghumari di Majelis Zawiyah Arraudah, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (28/1/2017). AKTUAL/Tino Oktaviano

Kairo, Aktual.com – Syekh Yusri menerangkan di ditengah-tengah pengajiannya, bahwa sebagai seorang hamba sejatinya sandaran hanyalah kepada Tuhannya, bukan kepada hal lain. Allah berfirman:

وَاَنّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى

Artinya: “dan hanya kepada Allahlah tujuan akhir” (QS. An Najm : 42).

Adapun dari segi syariah, Allah telah memerintahkan kita untuk berikhtiar dan berusaha untuk mencapai sebuah harapan dan mendapatkan apa yang kita butuhkan, dimana ini adalah merupakan bentuk ibadah dari seorang hamba kepada Tuhanya.

Karena kita adalah di alam mulk atau alam dunia yang masih terikat dengan hukum sebab akibat, adapun di sorga nanti, adalah sudah berbeda hukum alamnya, sebagaimana dalam Al Qur’an Allah berfirman:

لَهُمْ مَا يَشَاءُوْنَ عِنْدَ رَبِّهِمْ

Artinya “bagi merekalah para ahli sorga apa yang mereka inginkan di sisi Tuhannya “( QS. Az Zumar : 34).

Syekh Yusri juga menjelaskan, bahwa hendaklah seorang hamba agar berusaha untuk mendapatkan apa yang dia inginkan dan memasrahkan diri hanya kepada Allah saja, tanpa bersandar atas usahanya.

Dicontohkan ketika hamba itu sakit, maka syariah menganjurkan untuk berobat dengan pergi ke dokter misalkan, dan ini adalah merupakan sebuah ibadah. Nabi bersabda:

يَا أَيُهَا النَّاسُ تَدَاوَوْا

Artinya “Wahai manusia, berobatlah kalian semua “ (HR. Bukhari).

Adapun hati kita, maka akan tetap berkeyakinan bahwasanya Allah lah Dzat yang memberi kesembuhan itu, sebagaimana Allah berfirman:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ

Artinya: “dan ketika saya sakit, maka Dialah Dzat yang memberikan kesembuhan kepadaku “(QS. As Syuara : 80 ).

Inilah konsep tawakkul yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, dimana beliau adalah imam bagi orang-orang yang bertawakkul. Yaitu dengan ikhtiar berusaha secara dzahirnya, dan menjadikan sandaran hatinya hanya kepada Allah semata.

Syekh Yusri menambahkan, apabila kita sudah tidak bisa untuk berikhtiar dan berusaha, maka kita pasrahkan hal tersebut kepada Allah, dan inilah yang disebut dengan attafwidh, yang artinya berpasrah diri.

Seperti halnya seorang yang divonis oleh dokter, bahwa penyakit yang dideritanya tidak ada obatnya, dan tidak bisa disembuhkan, maka tidak ada pilihan lain baginya kecuali attafwidh, yaitu pasrah kepada Allah Dzat yang Maha Kuasa. Sebagaimana dikisahkan dalam Al Qur’an:

إِنّمَاَ أَشْكُوْا بَثّيِ وَحُزْنِي إِلَى اللهِ وَاَعْلَمُ مِنَ اللهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ”

Artinya “ Sesungguhnya hamba hanya mengadu musibah dan kesedihan ini hanyalah kepada Allah, dan saya mengetahui dari Allah apa yang tidak kalian ketahui ”(QS. Yusuf : 86).

Beliau tidak bertemu dengan anak kesayangannya yaitu Nabi Yusuf AS selama 50 tahun, dan sudah terputus dari segala bentuk ikhtiar, sehingga beliau bertafwidh (berpasrah diri) kepada Allah Ta’ala, kerena beliau adalah seorang Nabi, dimana seorang Nabi itu adalah orang yang tahu tentang Allah, orang yang paling sempurna dan berpasrah diri kepadaNya.

Mereka adalah orang yang paling mengenal Allah diantara para makhlukNya. Apalagi Imamnya para Nabi dan Rasul, yaitu Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda:

أَنَا أَعْلَمُكُمْ بِاللهِ

Artinya: “sesungguhnya sayalah orang yang paling mengenal Allah“ (HR. Bukhari ).

Sebagaimana Syekh Yusri menasihatkan kepada kita agar berakhlaklah pada setiap keadaanya dengan kesabaran, keridhoan dan kecintaan terhadap segala yang telah Allah tuliskan untuk kita.

Dan juga menasihatkan kepada kita agar menyikapi sifat Keagungan Allah yang sifatnya memaksa seperti Allah mentakdirkan kita dengan sesuatu yang tidak kita inginkan, dengan keindahan batin kita yaitu dengan bersabar.

Allah adalah Dzat yang Maha Agung dan Maha Indah dalam saat yang bersamaan. Dan jikalau kamu belum mampu untuk melihat sifat keindahan dalam sifat keagunganNya, maka ketahuilah bahwasanya dengan kesabaran, kamu akan mendapatkan pahala dariNya, diangkat derajatnya, dan Allah ampuni dosanya. Wallahu A’lam.

Laporan: Abdullah AlYusriy

(Andy Abdul Hamid)