Jakarta, Aktual.com – Dalam biografi yang ditulis Sheikh Abu Al Fadl Abdullah bin Muhammad bin Shiddiq Al Ghumari yang merupakan putra al Imam al Akbar Asy Syekh Abu Abdullah Muhammad bin Shiddiq al Ghumari ra mengatakan bahwa sifat beliau yang pemberani sangat tampak ketika menjelaskan kitab Sahih Bukhari dimana beliau selalu mengecam atau menentang kolonialisme dan mengajak umat untuk berjihad melawan orang orang kafir.

Dalam mengajak umat ke jalan Allah SWT beliau tidak mengenal rasa takut atas ancaman siapapun, hingga tersiar kabar bahwa penjajah Perancis benar benar akan segera menangkap beliau.

Meskipun terror dari penjajah terus bergulir untuk menakut nakutinya Namun selamanya beliau tak pernah tertinggal atau terhalang untuk terus mengisi pengajian pengajiannya dan tetap mengecam penjajahan bahkan semakin vokal dalam menyuarakan kecamannya atas kolonialisme.

Meskipun demikian penjajah Perancis tidak mampu menyentuhnya sama sekali apalagi menangkapnya.

Dan diantara keberanian beliau, bahwasanya suatu saat ia diundang untuk menghadiri Konferensi Khilafah yang diadakan di Al- Azhar (Mesir) yang diketuai oleh syekh Abu al Fadl al Gizawi selaku grand syekh al Azhar.

Dari Maroko, selain beliau diundang pula dua ulama yang lainnya namun kedua ulama tersebut tidak dapat menghadirinya karena mendapat larangan bepergian dari penjajah Perancis.

Namun beliau malah dipersilahkan untuk menghadap pejabat perwakilan kerajaan (orang Maroko) yang berada di Tangier, lalu beliau meminta kepada pejabat tersebut sebuah paspor atau surat izin perjalanan ke Mesir tanpa gambar.

Pejabat kerajaan Maroko berkata:” ini tidak mungkin.,” beliau pun berkata: “Saya akan tetap pergi walaupun tanpa paspor” lalu seorang intelejen Perancis di Tangier menjelaskan: “Jika Anda pergi tanpa paspor, maka kamu akan di deportasi dari Mesir oleh pihak inggris” beliau pun menjawab lagi: “tidak ada hubungannya urusan tersebut dengan kalian!”.

Kemudian pejabat perwakilan kerajaan mempertimbangkan kembali urusan beliau dan memberi iqamah atau visa kepada beliau untuk bisa tinggal di Rabat agar mereka dapat menelaah apa yang mereka lihat selama beliau tinggal di Rabat, dan setelah mereka meninjau selama dua bulan.

Mereka memutuskan untuk memberinya paspor tanpa gambar seperti yang beliau pinta.

Beliau adalah orang yang paling alim di zamannya, di Maroko tidak ada seorang pun yang berani bersebrangan atau menentang fatwanya. Dan dari sekian banyak pertanyaan yang dilayangkan kepada beliau pun datang dari masyarakat seluruh pelosok Maroko bahkan Aljazair.

Dan beliau biasa berfatwa dengan madzhab yang empat, meskipun ia telah mencapai derajat mujtahid yang mampu berijtihad sendiri menggunakan suatu dalil sesuai arah pendapatnya di Maroko beliau sangat berjasa dalam menghidupkan kembali ajaran sunnah sunnah Nabi SAW yang sudah yang lama padam.

Diantaranya adalah sunnah sunnah didalam shalat seperti: meletakan satu tangan diatas tangan yang lain, membaca ta’awudz dan basmalah pada rakaat pertama, mengangkat kedua tangan saat hendak ruku dan itidal, mengucap salam di akhir shalat dan lain sebagainya.

Ketika menghadiri muktamar atau konferensi di Mesir, beliau berkumpul bersama para ulama besar di sana seperti Sheikh Bakhit Mufti Mesir, Sheikh Muhammad Samaluti, Syekh Yusuf Asyibranjumi, Sheikh Abdul Majid Sharnouby, Sayyid Ahmad Rafi Tahtawy dan para ulama sepuh lainnya.

Mereka (para ulama besar di Mesir) mengakui keilmuan dan kelebihan beliau dan mengundangnya ke rumah mereka bahkan ada pula beberapa dari mereka (ulama Mesir) yang menawarkan diri untuk menemani beliau selama perjalanan namun beliau menolaknya dengan sikap tawadhu.

Beliau meninggalkan kenangan yang sangat berkesan di hati para ulama Mesir dari berbagai kalangan atau penganut madzhab yang berbeda beda. Seandainya beliau gemar bepergian ke luar daerah untuk menyebarkan thariqahnya seperti yang dilakukan ulama lain, pasti beliau mempunyai pengikut atau murid yang banyak, namun beliau tidak melakukannya.

Laporan: Deden Sajidin

(Andy Abdul Hamid)