Kinerja Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dianggap tak mampu untuk menggenjot pertumbuhan dengan mengandalkan belanja pemerintah. (ilustrasi/aktual.com)

Jakarta, Aktual.com – Kinerja Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dianggap tak mampu untuk menggenjot pertumbuhan dengan mengandalkan belanja pemerintah. Lagi-lagi pemerintah masih berharap pada daya beli masyarakat yang masih tinggi.

Menurut ekonom Indef, Bhima Yudhistira Adhinegara, pertumbuhan ekonomi jelang akhir kuartal II-2017 ini diproyeksikan memang bisa lebih tinggi dari kuartal I-2017. Namun yang disayangkan, justru yang menjadi penopang adalah daya beli masyarakat.

“Pertumbuhan di kuartal II-2017 bisa sebesar 5,1 persen. Itu Lebih bagus dari kuartal I-2017 yang hanya 5 persen. Tetap konsumsi rumah tangga yang menjadi penopangnya, bukannya belanja pemerintah,” tegas Bhima kepada Aktual.com, di Jakarta, Senin (19/6).

Menurut dia, konsumsi rumah tangga bisa meninggi di akhir kuartal II-2017 itu karena ada momen Hari Raua Idul Fitri dan cairnya Tunjangan Hari Raya (THR) plus gaji ke-13.

Pedagang melayani pembeli di pasar tradisional kawasan Tebet, Jakarta, Jumat  (5/8). Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan peningkatan konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi terhadap perekonomian Indonesia pada triwulan II-2016 yang tumbuh hingga 5,18 persen (yoy). Konsumsi rumah tangga itu didukung oleh pemberian gaji 13 dan 14 oleh pemerintah yang dimanfaatkan pada perayaan Lebaran serta sebagai persiapan dalam menghadapi tahun ajaran baru. AKTUAL/TINO OKTAVIANO
Pedagang melayani pembeli di pasar tradisional kawasan Tebet, Jakarta, Jumat (5/8). Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan peningkatan konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi terhadap perekonomian Indonesia pada triwulan II-2016 yang tumbuh hingga 5,18 persen (yoy). Konsumsi rumah tangga itu didukung oleh pemberian gaji 13 dan 14 oleh pemerintah yang dimanfaatkan pada perayaan Lebaran serta sebagai persiapan dalam menghadapi tahun ajaran baru. AKTUAL/TINO OKTAVIANO

“Itu yang menjadi penopang. Sementara belanja pemerintah tak bisa diharapkan, karena terus mengalami penurunan. Kami prediksi akan berada di range 6,8-7,2 persen,” jelas dia.

Angka tersebut, kata Bhima, kontribusi belanja pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) lebih rendah dibanding periode tahun sebelumnya atau year on year sebesar 9,44 persen.

“Sedang dominasinya masih dari konsumsi rumah tangga yang porsinya terhadap PDB mencapai 57 persen,” kata Bhima.

Menurutnya, selama ini daya beli memang menjadi tulang punggung ekonomi. Namun sayangnya, kendati lebih tinggi dari yang lainnya, trennya tengah merendah karena laju inflasi sedang tinggi.

“Inflasi tinggi karena adanya dorongan dari inflasi pangan dan penyesuaian tarif listrik, ini berdampak pada pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang sulit bertumbuh lebih tinggi lagi,” ujar dia.

Berdasar data Badan Pusat Statistik (pS), inflasi pangan di Mei saja sudah mencapai 0,86 persen. Sementara inflasi komponen listrik sebesar 0,35 persen. “Sehingga inflasi bulan ini dan bulan depan bisa lebih tinggi lagi,” tutup Bhima.

(Busthomi)

(Ismed Eka Kusuma)