Donald Trump kritik pengujian mesin roket terbaru yang dilakukan Korea Utara. (ilustrasi/aktual.com)

Meskipun Korea Utara Utara (Korut) sudah lima kali gagal menguji-coba rudal jarak menengahnya, AS tetap saja membangun kesan bahwa persenjataan nuklir dan rudal jarak-menengahnya sangat berbahaya. Bahkan Presiden Donald Trump dan Menlu Rex Tillerson sepertinya dengan sengaja memanfaatkan sesumber Presiden Korut Kim Jong-un untuk menggambarkan betapa seriusnya Korut dalam mengembangkan persenjataan nuklir maupun rudal jarak menengah maupun jarak jauh.

Misalnya saja pada 14 Mei lalu, pihak Korut mengklaim telah berhasil mengembangkan rudal balistik antar benuar atau yang yang lebih dikenal dengan ICBM. Yang mana daya jangkaunya kabarnya bisa mencapai 12 ribu kilometer.

Pihak Pentagon maupun Gedung Putih nampaknya juga dengan sengaja memanfaatkan sesumbar pihak Korut bahwa negerinya telah berhasil mengembangkan rudal jarak jauh yang mennjangkau antar-benua dan di dalamnya terpasang hulu ledak nuklir. Apalagi ketika Korut mengklaim rudal ini mampu mencapai daratan AS.

Namun kalau kita cermati perkembangannya kemudian, rudal balistik yang diberi nama Hwasong-12 dan mampu membawa hulu ledak nuklir dalam skala besar itu diuji-cobakan, ternyata gagal. Meskipun telah berhasil diluncurkan mencapai 700 kilometer, akhirnya jatuh ke bagian barat laut Jepang. Dengan kata lain, Korut sebenarnya belum punya rudal ICBM maupun senjata nuklir sebagaimana digembar-gemborkan oleh phak Korut.

Lantas, kalau AS tahu Korut sebetulnya belum mampu memiliki senjata nuklir maupun rudal jarak jauh sejenis ICBM, mengapa terkesan membesar-besarkan kemampuan nuklir dan rudal jarak jauh Korut? Bagi AS isu adanya ancaman persenjataan nuklir Korut agaknya agar punya alasan atau dalih agar negara Paman Sam bisa menempatkan dan menyebarkan Sistem Pertahanan Anti-Rudal atau yang kita kenal dengan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) di Korea Selatan.

Sejak April lalu THAAD yang merupakan perangkat pertahanan anti-rudal milik AS ini sudah dioperasionalisasikan dan dipasang di sebuah lapangan golf Seongju, Korea Selatan. Yang menjadi dalih AS untuk memasang THAAD di Korsel adalah untuk melindungi Korsel dengan lebih baik dari ancaman serangan rudal jarak menengah dan senjata nuklir Korut  yang belakangan ini semakin meningkat. Begitu menurut pernyataan Panglima Komando Pasifik AS Harry Harris.

Pernyataan Harris, nampaknya senada dengan pernyataan Presiden Trump maupun menlu Rex Tilerson, bahwa penyebaran THAAD ditujukan untuk melindungi Korea Selatan dari ancaman serangan persenjataan nuklir dan rudal jarak menengah Korut.

Antara lain Harris mengingatkan bahwa Presiden Korut Kim Jong-un semakin mendekati tujuannya membangun rudal nuklir yang berpotensi digunakan untuk menyerang kota-kota di AS.
Pada 30 Mei lalu, Pentagon bahkan telah melakukan simulasi menembak rudal antar benua atau Inter-Continental Balistic Missile (ICBM) Bahkan dalam keterangan persnya pada 26 Mei, Pentagon uji coba itu dilakukan dengan tujuan untuk menghadapi rudal ICBM Korut.
Dalih semaam ini tentunya aneh mengingat Korut sudah berkali-kali gagal dalam uji coba rudal jenis ini. Namun bagi AS, sesumbar dan pernyataan-pernyataan bombastis Korut malah dengan sengaja dimanfaatkan untuk memperkuat pengadaan THAAD maupun ICBM seperti baru-baru ini telah diuji-cobakan
Padahal Korut sendiri sampai sekarang belum punya ICBM. Namun anehnya pihak AS malah seakan memprovokasi Korut bahwa satu saat negeri pimpinan Kim Jong-un ini akan berhasil mengejar kemampuannya ke tahap tersebut. Bukankah pernyataan semacam ini terasa janggal dan aneh?
Yang jelas, manuver AS menemaptkan THAAD di Korsel dan uji coba iCBM dengan dalih untuk menghadapi ICBM Korut, pada perkembangannya malah akan memancing pemerntah Cina untuk mengembangkan persenjataan yang sama. Yang pastinya Cina sangat mampu dalam mengimbangi persenjataan canggih AS dari aneka jenis.
Apalalagi ketika Cina pun akhirnya sadar bahwa adanya THAAD maupun ICBM AS, sejatinya ditujukan untuk menghadapi angkatan bersenjata Cina.
Hendrajit