Jakarta, Aktual.com – Saudaraku, saya dilahirkan di sebuah dusun terkucil, ujung selatan Sukabumi-Jawa Barat, yang tak terlihat pada peta manual. Kepungan perbukitan dan terjal jalanan menyulitkan mobilitas; membuat kehidupan desa kami terpencil.

Dalam keterpencilan spasial, yang bisa membawa kesempitan mental, pemahaman atas kehidupan dan perkembangan dunia lain hanya bisa diterobos oleh ketersediaan bahan pustaka.

Dunia kepustakaan inilah teropong kecil yang dapat membantu pengembaraan anak dusun menembus batas-batas ruang dan waktu.

Terima kasih tak terhingga pada kedua orang tua, guru kemanusiaan pertama dalam kehidupanku. Merekalah yang mengajariku baca-tulis; memperkenalkan dunia luas lewat kalam menjadikan rumahnya sebagai “gudang buku” dan membacakan beragam literatur saat anak-anaknya mengelilingi meja makan.

Literasi memberi prakondisi mental untuk bersedia menerima hal-hal baru, menerobos dinding eksklusivisme primordial dengan membuka diri terhadap pengalaman yang lain, mentrasformasikan keyakinan lama dengan menerima pemahaman baru.

(Andy Abdul Hamid)