BAGIKAN

Jakarta, Aktual.com – Saudaraku, pikiran itu pelita hidup. Sesat pikir, binasa hidup.

Pikiran sehat menyatukan pelajaran dan pemahaman. Membaca membuatmu belajar, mencintai membuatmu memahami.

Sebuah bangsa yang tumbuh di atas lahan tandus daya baca dan cinta, susah menyuburkan pelajaran dan pemahaman. Bangsa tersebut mudah dilanda sesat pikir.

Di bawah gelap sesat pikir-dangkal ilmu, Republik berjalan tanpa pelita hidup. Ada banyak pemimpin tanpa keteladanan. Ada banyak gelar ilmuwan tanpa tuntunan.

Sutasoma berkata, pemimpin dan pandita tercerahkan tidak bisa dinilai dari penampilan citra lahiriyahnya. “Pancaran pengetahuan suci dan kebijaksanaan itu sendirilah yang menjadi tanda apakah seseorang itu tercerahkan atau tidak (tanpa memandang dia raja atau pandita dalam wujud lahirnya).”

Banyak orang berpenampilan pandita untuk menjual ayat dengan harga yang murah; membenarkan kejahatan politik dengan rekayasa statistika; mengajari orang untuk tujuan kesesatan dan kebencian.

Merajalelanya pandita palsu membawa bencana dan kemarau keteladanan. Sutasoma berkata, “Meskipun benar dikatakan bahwa murid haruslah mematuhi gurunya seperti mematuhi orang tuanya sendiri. Namun, jika guru bertindak jahat, maka akan ada kekeringan, hujan turun salah musim, panen-panen gagal, kesepuluh penjuru mata angin diliputi ketakutan, kejahatan terjadi di mana-mana, dan wabah penyakit berlangsung tanpa akhir.”

Banyak orang berambisi memimpin negeri tanpa mempelajari dan mencintai negerinya. Bagaimana bisa berempati atas derita dan bhinneka bangsa, bila kurang mengenali dan menjelajahi negerinya. Bagaimana bisa menghayati ideologi negara, bila tak bisa merasakan pahit getir sejarah perjuangan bangsa.

Tanpa dukungan nalar sehat dan kuat, negara berada di tepi jurang. Negara adalah penjelmaan dari pikiran; organisasi rasional dari masyarakat.

Membanguan negara harus melalui cara bagaimana kedaulatan menyatakan dirinya dalam pengetahuan dan pemikiran. Negara dapat dipandang sebagai mesin-pengumpul kecerdasan. Kedekatan antara negara dan kecerdasan, dan bahwa keselamatan negara ditentukan oleh kecerdasan, terlihat dari pemahaman umum yang cenderung mengaitkan istilah “intelijen” (kecerdasan) dengan badan inteligen negara.

Negara yang dibangun tanpa landasan kecerdasan dan pemikiran bak istana pasir. Bolehjadi tampak indah namun mudah roboh diterpa angin.

Jika demokrasi kita maksudkan sebagai jalan kemaslahatan bangsa, maka demokrasi yang kita kembangkan harus menumbuhkan kembali daulat rakyat yang dipimpin oleh terang akal budi (hikmat-kebijaksanaan) dengan memeras tetes-tetes madu pikiran sehat dari berbagai sarang lebah wakil rakyat (permusyawaratan perwakilan).

(Yudi Latif, Makrifat Pagi)

(Andy Abdul Hamid)