“Gerhana matahari dan gerhana bulan pada dasarnya peristiwa alam biasa yang dapat dihitung kapan terjadinya dengan ilmu hisab/falak. “Pendekatan diri kepada Allah dapat dilakukan dengan salat gerhana secara berjamaah, zikir dan membaca kalimat thayyibah. Juga dengan mengamati dan mempelajari fenomena alam ini dan perilaku makhluk

Jakarta, Aktual.com – Lari (Firar) dalam istilah tasawwuf bukan dalam arti fisik tapi lari secara ruhani, yaitu bergerak dari keterikatan pada makhluk (Al Khalq) menuju Allah Swt (Al Haq).

Konsep lari dari makhluk ini merupakan salah satu perintah Allah kepada hambanya. Dalam kaidah ushul Fiqh; kata perintah/amar itu menuntut pada wajib atau sunnah. Seperti dalam firmannya;

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ ۖإِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ

Artinya: ”Maka segeralah kalian lari/kembali (menaati) kepada Allah, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagimu’ .(Surah Addzariyat [51]: ayat 50).

Syaikh Abdurrahman Assa’di dalam kitab tafsirnya Taisiru Al-Karim Ar-Rahman menyatakan bahwa makna lari dalam ayat ini adalah lari menuju kepada Allah Swt karena takut siksa dan mengharap pahala; lari dari sesuatu yang dibenci-Nya menuju kepada sesuatu yang dicintai-Nya baik secara lahir maupun batin, dari kebodohan kepada ilmu; dari kufur kepada iman; dari maksiat kepada taat; dari lupa ke dzikrullah.

Barang siapa menyempurnakan pelarian model ini maka ia telah menyempurnakan urusan agamanya secara keseluruhan.
Dari pengertian tafsir ini dapat dipahami bahwa bentuk pelarian itu sejatinya adalah lari dari tipu daya makhluk menuju perlindungan sang khaliq; dari segala sesuatu yang tidak diridhai Allah Swt menuju kepada sesuatu yang diridhai Allah Swt. Dari sesuatu yang tidak aman menuju kepada apa yang aman dalam perlindungan-Nya.

(Andy Abdul Hamid)