BAGIKAN
Wakil Presiden Jusuf Kalla menerima kuniungan Wakil Presiden AS Mike Pence di Istana Wapres, Jakarta, Kamis (20/4). Dalam pertemuan tersebut, Wapres Mike Pence memaparkan seputar kebijakan luar negeri baru
Wakil Presiden Jusuf Kalla menerima kuniungan Wakil Presiden AS Mike Pence di Istana Wapres, Jakarta, Kamis (20/4). Dalam pertemuan tersebut, Wapres Mike Pence memaparkan seputar kebijakan luar negeri baru "America First". AS akan fokus kepada peningkatan hubungan perdagangan dan investasi yang menguntungkan negaranya. Kebijakan America First dicanangkan sejak Trump berkampanye presiden tahun lalu. Berdasarkan program ini, Trump mengedepankan rakyat Amerika dan keamanan Amerika di atas segalanya. AKTUAL/Tino Oktaviano

Kesepakatan yang berhasil dicapai antara sektor bisnis RI dan AS senilai 10 miliar dolar AS, nampaknya akan membuka keseimbangan politik baru di tengah semakin menguatnya pengaruh Cina di sektor energi dan migas di Indonesia.

 

Tren ini bukan sekadar besarnya ketertarikan para perusahaan AS berinvestasi di Indonesia sebagaimana pernyataan normatif Wakil Presiden Pence dalam sambutannya di Hotel Shangrila Jumat (21/4) kemarin. Perkembangan tersebut mengisyaratkan kembali menguatnya pancangan kaki para pelaku bisnis AS yang mana sebelumnya semakin tersudut menyusulnya menguatnya dominasi Cina dalam berinvestasi di Indonesia.

 

Cermin dari perebutan pengaruh AS versus Cina di sektor energi dan migas di Indonesia nampak jelas melalui 11 kesepakatan bisnis yang ditandatangani sebagian besar meliputi bidang energi, baik minyak dan gas, maupun energi terbarukan, serta teknologi informasi.

 

Apalagi hal itu diperkuat ketika Wapres Jusuf Kalla dan Mike Pence menyaksikan penandatangan nota kesepahaman (MoU) terbaru, yakni antara Pertamina-ExxonMobil tentang LNG senilai 6 miliar dolar AS dan Perusahaan Listrik Negara (PLN)-Pacific Infra Capital tentang turbin pembangkit listrik di Jawa dan Bali senilai 2 miliar dolar AS.

 

Menghadapi menguatnya dominasi Cina mengimbangi AS dalam sektor energi dan migas di Indonesia, AS memang punya pertaruhan besar di Indonesia mengingat dominasinya di kedua sektor tersebut sudah berlangsung sejak 1967, ketika terjadi peralihan kekuasaan dari Presiden Sukarno ke Presiden Suharto.

 

Seperti kita ketahui, beberapa perusahaan  raksasa AS mendominasi proyek migas, emas dan tembaga di Indonesia. Di sektor minyak, bercokol ExxonMobil yang mengelola ladang-ladang minyak di negeri ini. Salah satunya,  ladang minyak yang sempat mengundang kontroversi adalah blok Cepu, Bojonegoro.

 

Belum lagi PT Freeport Indonesia, perusahaan emas dan tembaga kelas dunia yang beroperasi di kompleks tambang pegunungan Grasberg dan Ertsberg di Mimika, Timika, Papua sejak akhir 1960-an, setelah pemerintahan Suharto melakukan negosiasi ulang dengan Freeport.

Di sektor pertambangan lain juga ada raksasa Newmont. Lewat PT Newmont Nusa Tenggara, perusahaan tambang emas asal AS ini beroperasi di Lapangan Batu Hijau, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat.

Singkat cerita, pertaruhan AS di Indonesia, utamanya di sektor pertambangan dan migas, boleh dikatakan cukup besar. Sehingga adanya manuver dari Cina untuk semakin menjalin hubungan erat dengan Cina, tentunya sangat mengkhawatirkan Washington.

 

Kecemasan Washington semakin menjadi-jadi ketika Cina juga dikabarkan sedang mengincar pertambangan di pegunungan Grasberg dan Ertsberg di Mimika, Timika, Papua, yang belum semuanya dieksploitasi oleh PT Freeport Indonesia. Di pegunungan ini masih terkandung biji tembaga, uranium, dan emas. Inilah salah satu alasan yang dikabarkan kenapa AS mendirikan pangkalan militer di Darwin, Australia.

 

Bukan itu saja. AS juga cemas etika PetroChina sudah mendapatkan kontrak kerja sama migas dengan Pertamina di Sukowati dan Tuban, lapangan migas yang bertetangga dengan Blok Cepu.

 

Kalau kita telisik lebih cermat, memang dalam beberapa tahun terakhir, boleh dibilang Cina merupakan investor paling agresif di sektor migas Indonesia. Pada awal 2002, CNOOC mengakuisi seluruh operasi migas Repsol-YPF senilai US$ 585 juta, sehingga menjadikannya produsen minyak lepas pantai terbesar di Indonesia dengan output 125.000 barel per hari.

 

Bisa jadi kenyataan inilah yang membuat Presiden Donald Trump beberapa waktu lalu meradang kepada Indonesia, dan menuding pemerintahan Jokowi tidak fair dalam hubungan perdagangan dengan Paman Sam. Apalagi dalam daftar negara-negara yang berinvestasi di Indonesia  posisi AS berada di bawah Jepang, Singapura dan Cina. Dengan makna lain, Cina lebih unggul daripada AS.

 

Persaingan AS versus Cina di ASEAN itu sendiri memang mulai semakin menajam sejak  2011, ketika berlangsung Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asean ke-19 di Nusa Dua Bali, 17-19 November 2011. Yakni, ikutnya AS dan Cina dalam hajatan besar 11 negara anggota Asean.

 

Cina, misalnya. merangkul negara-negara anggota ASEAN untuk meresmikan Asean-China Centre (ACC). Untuk mendirikan ACC, Cina rela menjadi penyumbang terbesar hingga 90%, sementara sisanya dibagi rata 11 negara anggota Asean. Tujuan utama ACC adalah memperkuat perdagangan dua arah antara negara-negara Asean dan Cina.

Hendrajit