Jakarta, Aktual.com – Belakangan waktu ini Rupiah terus tak berdaya menghadapi serangan eksternal. Pada Selasa pagi (22/5), Rupiah masih mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), terpuruk di level Rp14.188 per USD. Melansir Bloomberg Dollar Index, Selasa (22/5/2018) pukul 09.26 WIB, Rupiah pada perdagangan spot exchange melemah 2 poin atau 0,01% ke level Rp14.188 per USD. Rupiah hari ini bergerak di kisaran Rp14.126-Rp14.203 per USD.

Mantan Menko Ekuin tahun 1999-2000, Kwik Kian Gie mengungkapkan bahwa rupiah dalam tiga tahun pemerintahan Jokowi terus merosot mulai dari Rp9.750 hingga mencapai Rp14.188. Secara tidak langsung, kenaikan nilai tukar yang sangat tinggi tersebut memicu kenaikan harga kebutuhan bahan pokok.

“Nilai rupiah melemah terus menerus sejak RI berdiri, hingga tahun 1970 ekonomi Indonesia masih semrawut. Maka kita ambil perkembangan mulai 31 Desember 1970. Membandingkan dengan negara terdekat. Negara tetangga Singapura USD1 ke USD3, menguat 57  persen. Sedangkan Malaysia melemah 31 persen, Thailand melemah 52 persen, Filipina melemah 756 persen. Nah Indonesia dari Rp363 – menjadi Rp14.000 melemah hingga 3.750 persen,” jelas Kwik.

Lalu, apakah dengan melemahnya nilai tukar rupiah itu berpengaruh terhadap utang Indonesia? Kwik menyatakan dengan tegas utang valas dibayar dengan valas. Sedangkan utang dengan jumlah besar harus dibayar juga utang + bunga pada tanggal jatuh tempo.

“Pada tanggal jatuh tempo, utang besar dalam valas harus dibayar juga dengan bunganya. Bunganya juga berbentuk valas,” tegasnya.

Page 2: Rapuhnya Fundamenal Ekonomi

(Ismed Eka Kusuma)