Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Kestuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) berujuk rasa di depan kantor PMK, Jalan Medan Merdeka, Jakarta Pusat, Jumat (14/9/2018). Aksi mahasiswa ini menuntut pemerintahan Jokowi untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, menurunkan harga kebutuhan pokok, menghentikan impor yang tidak diperlukan dan melakukan swasembada pangan. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, Aktual.com – Dalam perhelatan dunia, Annual Meeting IMF-WB 2018 di Bali, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengakui pelemahan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap dolar AS terjadi karena pengaruh dari membaiknya kondisi ekonomi di AS. Membaiknya kondisi ekonomi AS tersebut menyebabkan terjadinya kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS (The Fed) dan disertai oleh penyesuaian imbal hasil obligasi negara AS dengan tenor 10 tahun. Perbaikan ekonomi AS akan terus terjadi hingga mencapai titik keseimbangan baru.

“Harus dilakukan penyesuaian strategi pembangunan supaya lebih stabil atau berdaya tahan, dan dalam bentuk nilai tukar yang dalam hal ini fleksibel. Kita memang harus berhati-hati dari pergerakan ini,” ujarnya.

Disisi eksternal, Presiden Fed NY, John Williams dalam pidatonya menyampaikan bahwa ekonomi Amerika Serikat (AS) saat ini berada dalam keadaan sangat positif. Indikasinya terlihat dari tingkat pengangguran dan inflasi yang rendah, prospek pertumbuhan yang baik dan diperkirakan masih akan berlanjut. Dengan keadaan ekonomi yang baik tersebut, otoritas AS pun melakukan normalisasi kebijakan, dengan menaikkan suku bunga bank sentral dan normalisasi neraca (balance sheet). Meskipun demikian, disadari bahwa dengan saling terhubungnya ekonomi dunia, kebijakan AS dapat berpengaruh pada ekonomi global, dan pada gilirannya dapat kembali memengaruhi ekonomi AS. Dua hal penting yang ditekankan adalah bahwa normalisasi AS akan dilakukan secara bertahap, serta bahwa AS akan terus melakukan komunikasi transparan. Kedua hal ini diharapkan dapat mengurangi dampak global spillover.

Disisi moneter, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menilai ekonomi Indonesia masih stabil dan berdaya tahan, antara lain tercermin dari pertumbuhan dan inflasi yang baik, serta stabilitas sistem keuangan yang terjaga. Namun, dengan ekonomi domestik yang terjaga Indonesia tetap harus memperhatikan pengaruh ekonomi global.

Untuk itu, skenario kebijakan yang dilakukan Bank Indonesia adalah memastikan daya saing pasar keuangan Indonesia agar tetap menarik, dan agar defisit transaksi berjalan tetap terjaga. BI juga selalu hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Pendalaman pasar keuangan juga terus dipercepat, agar pasar keuangan Indonesia semakin prospektif. Dalam usaha-usaha menjaga ekonomi Indonesia, BI tidak sendiri. Seluruh usaha tersebut dilakukan bekerja sama dengan instansi terkait, baik Pemerintah, OJK, maupun lembaga lainnya.

Selanjutnya, Ada AM IMF-WB di Bali tapi Rupiah Terus Melemah, Tembus Rp15.000

(Ismed Eka Kusuma)