Padahal, kata dia, di dunia ini tak ada negara di seluruh dunia yang rakyatnya makmur jika mengikuti kebijakan tersebut. Contohnya, negara-negara di Amerika Latin.

“Kita ikut itu (program WB). Bersama Filipina di Asia kita ikut. Kalau yang lain ikutnya model Asia dan dampaknya luar biasa berbeda (mereka lebih sejahtera),” tutur dia.

Dirinya pun mencontohkan hasil dari kebijakan ekonomi neoliberalisme itu menciptakan struktur ekonomi ibarat gelas anggur yang sudah berjalan puluhan tahun.

“Kondisi ekonomi di atas (ibarat media gelas tempat menampung air) itu besar dan diisi oleh BUMN yang besar-besar dan diisi oleh 200 keluarga yang punya lebih dari 100 perusahaan,” kata dia.

Tapi di bawahnya (pegangan gelas) itu, dia menambahkan, kodnisinya kecil yang menandakan tak ada kelas menengah yang independen. Dan yang di bawahnya (alas gelas) lagi, cukup besar sekali. Itu menandakan 16 juta usaha kecil dan rumah tangga.

“Dengan struktur ekonomi seperti ini jelas sangat berbahaya buat demokrasi. Karena yang di atas makin lama akan makin kaya dan yang di bawah makin miskin. Akhirnya terjadi kecemburuan ekonomi kalau dicampur dengan faktor etnis, faktor agama, itu bahaya sekali karena bisa jadi sumber integrasi di bidang ekonomi,” pungkas dia.

(Reporter: Busthomi)

(Ismed Eka Kusuma)