Ekonom Senior dan Politisi Rizal Ramli. AKTUAL/Tino Oktaviano

Bandung, Aktual.com – Ahli Ekonomi senior, Rizal Ramli memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terjebak pada angka 5% hingga 2019 nanti.

Menurut Rizal, hal ini terjadi karena saat ini masih terdapat ketimpangan dalam penyaluran kredit. Industri besar, katanya, masih menguasai kredit yang disalurkan pemerintah.

Ia pun menganalogikan penerima kredit dengan sebuah cawan gelas. Bisnis besar dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mendominasi penerimaan kredir menjadi bagian gelas yang akan diisi air.

Selanjutnya bisnis menengah diposisikan Rizal pada leher gelas, dan mayoritas rakyat di dasar gelas.

“Masalah kita, seperti inilah struktur ekonomi di Indonesia. Sebanyak 83 persen kredit hanya mengalir ke bisnis besar, sisanya 17 persen ke bisnis menengah dan rakyat,” terang Rizal usai launching Baitut Tamwil Barkah Umat, yang merupakan salah satu unit yang dikelola oleh Majelis Ekonomi PP Persis, Sabtu (14/4).

“Pengusaha menengahnya sedikit saja, sisanya ada 60 juta usaha kecil dengan berumah tangga, umat Islam yang di bawah. Saya mohon maaf,” sambung pendiri lembaga think tank Econit ini.

Mantan Penasehat Ekonomi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini juga mengkritisi kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak pada rakyat. Menurut dia, hal itu yang menyebabkan struktur ekonomi Indonesia sangat tak sehat.

“Kondisi itu tercipta karena para menteri ekonomi berhaluan neoliberalis. Makanya jangan harap kehidupan rakyat Indonesia akan semakin sejahtera,” tegas Rizal Ramli.

Selain itu, Rizal juga menyebut praktik korupsi memiliki peran dan sumbangsih yang cukup besar dalam mandeknya pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ia menyatakan, praktik korupsi di Indonesia sudah sampai pada level sistemik.

Puluhan kepala daerah yang menjadi tersangka korupsi itu jelas menghambat aktivitas ekonomi.

“Solusinya sederhana, negara harus membiayai partai, seperti di Eropa dan Australia. Jadi partai bisa fokus mendidik kader yang berkualitas,” terang Rizal Ramli.

Faktor kedua adalah kurang ulet, inovatif dan berani. Kata dia, Indonesia harus belajar dari Vietnam yang terkenal ulet dan pekerja keras. Sebab, faktanya pertumbuhan ekonomi negara yang pernah berhasil mengusir tentara Amerika Serikat itu berhasil melampaui Indonesia.

Sementara faktor ketiga, menurut tokoh nasional ini, sejak era Presiden Soeharto sistem ekonomi yang dianut Indonesia adalah sistem neoliberal ala Bank Dunia. Padahal, ada alternatif sistem yang tersedia, seperti yang dilakukan oleh China dan Vietnam.

“Saya percaya bisa tumbuh 10 persen setiap tahunnya. Kuncinya sederhana, tunjuk saya (Rizal Ramli) jadi presiden. Gitu aja kok repot,” pungkas Rizal Ramli.

(Teuku Wildan)