Gunung Agung berselimutkan bintang di Pos Pamantau Gunung Agung, di Desa Rendang, Senin (2/10) dinihari. Berdasarkan pantauan PVMBG, jumlah kegempaan yang terjadi terekam lebih sedikit dari hari-hari sebelumnya, kemungkinan batal meletus sangat kecil. Tapi, bisa saja Gunung Agung melanjutkan tidur panjangnya usai erupsi pada tahun 1963 alias membeku. AKTUAL/Tino Oktaviano

Karangasem, Aktual.com – Kepala Sub Bidang Mitigasi Pemantauan Gunung Api Wilayah Timur Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Devy Kamil‎ meminta masyarakat tetap tenang, meski gempa tremor non-harmonic sudah mulai muncul di Gunung Agung. Ia meminta kepada awak media agar berhati-hati membuat berita agar warga tak panik.

“Tremor harmonik bisa terjadi kalo aliran fluida mengakibatkan bergeraknya conduit dan membuat resonance effect atau efek resonansi. Tremor harmonik juga tidak selalu diikuti letusan,” kata Devy, Kamis (12/10).‎

Baca Juga :  Tiga Tahanan Kabur akan Diberikan Putusan Hari Ini

Diakui Devy, tremor terus menerus (non-harmonic) sering menjadi penanda terakhir sebelum letusan. “Tremor menerus (non-harmonic) biasanya menjadi penanda terakhir sebelum letusan terjadi,” tutur Devy.

Biasanya, kata Devy, hal itu terjadi berkaitan dengan penghancuran sumbat penutup kawah.

Sebelumnya diberitakan, gempa tremor non-harmonic sudah terasa di Gunung Agung. Dalam laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang disusun oleh I Nengah Wardana, gempa tremor non-harmonicsebanyak tiga kali, amplitudo: 1.5-4 mm dengan durasi urasi : 80-140 detik.

Baca Juga :  Alih Fungsi Hutan Lindung Menuai Kritik

 

Laporan Bobby Andalan, Bali

(Zaenal Arifin)