Penyerangan terhadap ulama dan fenomena orang gila dadakan. (ilustrasi/aktual.com)

Jakarta, Aktual.com – Bang Udin (43) tahun terlihat tidak seperti biasanya. Dia biasanya langsung “angkat kaki” ketika mendenger kata ulama. Namun, ketika dia mendengar ulama saat ini menjadi “target” orang gila dadakan, dia pun begitu antusias mendegarnya.

“Fenomena apa yang terjadi saat ini, ulama kok tiba-tiba jadi target orang gila,” ujar Rahmat (32) tahun, salah seorang warga di Bekasi, Jawa Barat ketika ngobrol di kantor RW 02, Bekasi Jaya.

“Lu tahu Din? tanya pria yang biasa disapa Amat kepada Udin.

Terlihat wajah Udin memerah seperti menahan emosi ketika ditanya Amat soal ulama diserang oleh orang gila dadakan. Beberapa orang yang ada di pos satpam itu pun tampak terlihat emosi mendengarkan celotehan Amat.

Tak hanya sekedar cerita dalam bentuk narasi, isu penyerangan ulama dikuatkan dengan munculnya kejadian-kejadian diberbagai daerah. Tentu ini menjadi sangat aneh. Mengapa? orang gila dadakan tampak seperti “sengaja” diumbar!

Bukankah, menurut logika gampangnya, orang gila tidak akan menyasar kepada satu orang saja. Adakah maling yang dengan sengaja meninggalkan barang miliknya di rumah, yang ia curi atau ia berteriak lantang bahwa ia adalah maling? Aneh memang.

Obrolan di atas memang obrolan biasa terjadi dikalangan masyarakat terkait isu terkini.Ya fenomena orang gila dadakan merebak ke permukaan. Mereka menganggap cerita penyerangan ulama atau ustadz oleh orang gila tampak seperti tidak “alamiah”. Bagaimana kejadiannya, siapa korbannya dan cara tersebarnya berita seperti mengikuti pola yang sama.

Sasaran dan “hasil” yang didapat juga tampak serupa. Mereka para penebar isu tampak berusaha membangkitkan kembali ketakutan masyarakat yang berlebihan atas peristiwa itu. Ada mobilisasi opini. Sore kemarin, usai Maghrib, obrolan itu pun kembali muncul di permukaan. Kali ini wilayahnya berbeda, isu ulama diserang orang gila disebar dengan cara merambatkan informasi dari mulut ke mulut. Begitu juga masif disebar melalui media sosial.

Menyebarkan berita melalui medsos, tentu akan menjadi virus yang menjalar dari satu komputer ke komputer lainnya. Sangat cepat. Satu informasi bisa disebar ke ribuan pengguna medsos hanya dalam hitungan menit. Isu itu menyusup masuk ke tubuh lewat jengkal kalimat yang disebar, merambat sangat cepat ke otak lalu memenuhi sekat-sekat kosong.

Fenomena teror orang gila dadakan yang menyerang ulama seperti cipta kondisi. Ibarat bola yang sengaja digelindingkan dari turunan. Tak sedikit mereka (orang gila) yang tertangkap langsung dihakimi baik oleh santri maupun warga. Ketika (orang gila) diintrogasi, mereka pun mengaku bahwa apa yang dilakukannya itu merupakan “pesanan” yang memang untuk mengamati kondisi pesantren yang dituju.

Bila berkaca dimasa lampau, kondisi ini tentu mirip pada kejadian 1998-1999 yakni fenomena “Ninja”. Serupa tak sama bisa dibilang seperti itu. Karena targetnya yakni ulama. Hanya saja pelakunya kali ini orang gila dadakan. Yang jelas ini akan seperti nostalgia karena bakal banyak orang mulai ketakutan.

Ini tentunya akan membuat efek yang lebih besar lagi dari pada peristiwa 1998. Apalagi, ketika itu target “Ninja” sangat random. Karena siapa saja bisa menjadi target. Dengan kondisi yang dicipta saat ini, tentu pengambilan keputusan tanpa berpikir jernih dan logis yang pada akhirnya “hukum jalanan” jadi titik tumpu.

Tanpa berpikir logis, semua yang tampak sedikit mencurigakan bisa jadi korban. Seperti pembantaian pada masa Orde Baru, yang begitu banyak korbannya. Tak bisa dibayangkan, bila itu terjadi disaat ini. Apalagi kekerasan yang mengakibatkan luka berat dialami ulama dari Pondok Pesantren Al Hidayah, Cicalengka, Bandung, KH Umar Basri bin KH Sukrowi. Setelahnya, KH R Prawoto asal Bandung juga diserang hingga meninggal dunia. Sedangkan baru-baru ini penyerangan kembali dilakukan terhadap pengasuh pondok pesantren di Lamongan, Jawa Timur, KH Hakam Mubarok.

Upaya sistematis penyarangan ini tampaknya memang sengaja dibuat. Sengaja dipantik agar gelombang umat menjadi besar. “Logika kami mungkin salah. Namun, logika kami menyimpulkan ada rekayasa dan rekayasa yang canggih itu membuat kasus-kasus itu seolah-olah berdiri sendiri,” ujar Din Syamsuddin seusai Rapat Pleno Dewan Pertimbangan MUI yang juga dihadiri oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Suhardi Alius dan Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komjen Pol Ari Dono Sukmanto, Rabu (21/2).

Namun demikian, apa yang dihasilkan rapat itu tentunya membuat Dewan Pertimbangan MUI tak puas begitu saja. Karena Din lagi-lagi menyebut, kondisi saat ini tengah diciptakan yang memang mengarah kepada membenci umat Islam.

Din pun meminta penyelidikan kasus kekerasan terhadap ulama, tokoh agama dan rumah ibadah di beberapa tempat segera diselesaikan. Karena ia mengkhawatirkan penyarangan ini bisa memancing gelombang umat yang lebih besar lagi. “Kami minta segera diselesaikan. Karena korbannya ulama, kasus itu mudah menyulut kemarahan umat,” kata Din.

Din khawatir bila kasus tersebut tidak segera diselesaikan, bisa menimbulkan reaksi umat Islam yang tidak proporsional serta saling tuding antara umat agama satu dengan yang lain.

Polri Klaim Jaga Ulama