Diskusi bertajuk "DPT Bermasalah, Hak Pilih Terancam" yang diadakan The Indonesia Institute (TII) dengan Komunitas Pewarta Pemilu (KPP) di Jakarta, Jumat (14/9). AKTUAL/ TEUKU WILDAN

Jakarta, Aktual.com – Polemik mengenai adanya pemilih ganda dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) menjadi sorotan dua hari menjelang pengumuman Hasil Perbaikan DPT pada Minggu (16/9) lusa.

Peneliti The Indonesian Institute (TII) Fadel Basrianto menilai, adanya pemilih ganda dalam DPT sangat rentan dimanipulasi.

Hal ini diungkapkannya dalam sebuah diskusi yang diadakan Komunitas Pewarta Pemilu (KPP) dan TII yang bertajuk ‘DPT Bermasalah, Hak Pilih Terancam’ di Jakarta, Jumat (14/9).

“Ketika ada perbedaan data yang dimiliki KPU dan Kemendagri, kemudian Parpol juga memprotes di sinilah celah manipulasi bisa terjadi,” kata Fadel.

Menurutnya, persoalan DPT merupakan masalah klasik yang terjadi dalam setiap pelaksanaan Pemilu. Hal ini, jelasnya, telah terbukti dengan kembali munculnya masalah ini menjelang Pemilu tahun depan.

“DPT satu sisi menjamin hak individu, satu lagi rawan manipulasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, polemik ini sejatinya muncul lantaran adanya perbedaan data antara Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Fadel melihat ada ego sektoral antara KPU dengan Kemendagri. Dirinya menyayangkan kedua lembaga tersebut yang justru saling lempar kesalahan.

Menurutnya, Kemendagri juga tidak memanfaatkan teknologi secara maksimal. Di sisi lain, petugas KPU harus datang ke rumah warga dalam melakukan pencocokan pemilih.

“Padahal situasi masyarakat kita telah berubah. Ada yang karakternya mobile terutama di daerah-daerah urban,” pungkasnya.

(Teuku Wildan)