Anggota Polisi Air Polda Bali memeriksa Penyu Hijau (Chelonia Mydas) saat perahu beserta anak buah kapal (ABK) yang menyelundupkan hewan langka itu digiring ke Pantai Serangan, Denpasar, Kamis (7/4). Sebanyak 45 ekor Penyu Hijau yang hendak diselundupkan oleh lima tersangka dari Madura ke Bali berhasil digagalkan oleh polisi namun beberapa ekor diantaranya gagal diselamatkan karena mati. ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana/foc/16.

Sorong, Aktual.com – Populasi penyu, salah satu satwa yang dilindungi di perairan Provinsi Papua Barat, menurun dari tahun ke tahun, kata Peneliti Biologi, Kelautan dan Konservasi Universitas Papua Ricardo Tapilatu.

“Hasil penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Sumberdaya Perairan Pasifik Universitas Papua yang didukung Conservation International Indonesia pada Maret sampai Oktober 2016, menyatakan di perairan Papua Barat terdapat empat jenis penyu dari enam jenis penyu di Indonesia,” katanya di Sorong, Sabtu (29/4).

Dia mengatakan, empat jenis penyu yang ditemukan di Papua Barat adalah penyu hijau, sisik, lekang dan belimbing.

Dia menjelaskan, terjadi penurunan jumlah populasi penyu secara drastis di perairan Papua Barat. Hasil penelitian di beberapa kawasan habitat penyu belimbing pada tahun 2008 ditemukan mencapai 15.000 sarang penyu yang dilindungi itu.

“Penelitian tahun 2011 ditemukan sekitar 2.000 sarang, dan penelitian pada tahun 2016 hanya ditemukan sebanyak 1.500 sarang penyu belimbing jumlahnya menurun drastis,” ujar dia.

Menurut Ricardo, penurunan jumlah penyu terjadi karena beberapa faktor yakni, predator seperti babi, biawak, elang dan hiu. Kondisi lingkungan juga sangat mempengaruhi seperti suhu pasir yang tinggi dan air pasang.

Selain itu, kata dia, ancaman terbesar bagi kehidupan penyu adalah perilaku manusia terutama nelayan. Alat kerja nelayan seperti jaring juga dapat mengancam kelangsungan hidup penyu.

Sampah plastik yang dibuang ke laut dapat pula menyebabkan kematian penyu yang tidak sengaja mengkonsumsi sampah plastik tersebut.

Dikatakan, hasil penelitian kandungan logam berat pada telur penyu hijau dan penyu sisik melebihi batas aman untuk dikonsumsi oleh manusia. Terdapat delapan kandungan zat berbahaya pada telur penyu tersebut, yakni merkuri, kadmium, arsen, timah, seng, mangaan, besi dan tembaga yang cukup berbahaya bagi manusia.

“Kami mengharapkan masyarakat Papua Barat tidak lagi mengkonsumsi telur maupun daging penyu, karena berbahaya bagi kesehatan, dapat menimbulkan berbagai penyakit yang salah satunya gangguan ginjal,” ungkapnya.

 

Ant.

Artikel ini ditulis oleh: