Myanmar menolak dikatakan seperti itu. Negara tersebut mengatakan lebih dari 500 orang yang tewas dalam pertempuran tersebut, sebagian besar merupakan “teroris” yang telah menyerang warga sipil dan membakar desa-desa. ARSA tampaknya tidak mampu menahan perlawanan terhadap serangan militer yang dicetuskan pada Agustus lalu.

Tak dapat dipungkiri lagi, terdapat keraguan tentang bagaimana pemberontak dapat bergiat di daerah di mana militer telah mengusir penduduk sipil, membatasi pemberontak dari perekrut, makanan, dana dan informasi.

Baca Juga :  Infrastruktur Dibiaya Hutang, Hatta Taliwang: Kebijakan Pembangunan Infrastruktur Harus Dikritisi

ARSA menuduh pemerintah Myanmar menggunakan pembunuhan, pembakaran dan pemerkosaan sebagai “alat pengusiran”.

(Wisnu)