Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menyematkan tanda Opsgaktib dan Yustisi kepada prajurit POM TNI dari tiga angkatan saat apel Operasi Penegakan Ketertiban (Opsgaktib) dan Yustisi POM TNI di Taxy Way Skuadron 17 Pangkalan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (26/1/2017). Upacara yang diikuti sekitar 1.260 personel gabungan dan tujuannya adalah untuk menekan dan mencegah terjadinya pelanggaran serta perbuatan melawan hukum, seperti penyalahgunaan narkoba, kriminalitas, pelanggaran lalulintas, sehingga dapat mewujudkan prajurit TNI yang profesional dan dicintai rakyat.

Jakarta, Aktual.com – Beberapa waktu belakangan, nama Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, disebut beberapa pihak sebagai sosok yang pantas menjadi kandidat Wakil Presiden dalam perhelatan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Sebagian orang menyebut jika Gatot merupakan kandidat kuat Cawapres yang mendampingi Joko Widodo. Sementara, tidak sedikit pihak yang menyebut menginginkan Gatot bersandingan dengan Prabowo Subianto, untuk Pilpres dua tahun mendatang.

Namun, hal yang berbeda dilontarkan oleh Direktur Lingkaran Madani (LIMA), Ray Rangkuti. Menurutnya, jenderal berbintang empat ini tidak memiliki kans yang memadai untuk tampil sebagai Cawapres 2019.

Walaupun saat ini Gatot berstatus sebagai Panglima TNI yang notabene dekat pemerintahan, hal itu disebut Ray masih belum cukup untuk membuat Jokowi meminang Gatot.

“Gatot ini hanya akan menjadi “penari latar”, Jokowi apabila menggandeng dia, tidak akan ada tambahan poin, pertama tidak ada basis massa, tidak punya dana, dan partai politik,” ujar Ray dalam diskusi di kantor PARA Syndicate, Jakarta Selatan, Jumat (11/8).

“Yang pasti Pak Gatot sama sekali enggak masuk (digandeng Jokowi),” ujarnya.

Di lain pihak, pihak Prabowo pun disebut Ray tidak akan meminang Gatot sebagai Cawapres, karena kedua sosok tersebut memiliki latar belakang militer. Menurut Ray, masyarakat masih memiliki rasa trauma dari militerisme ala Orde Baru.

Ray beranggapan jika keduanya dipasangkan, bukan tidak mungkin isu yang berbau militeristik akan dihembuskan oleh pihak lawan.

“Itu akan jadi indikasi buruk dalam kehidupan demokrasi, karena keduanya berasal dari militer,” kata dia.

Sementara Partai Amanat Nasional (PAN) yang juga dikabarkan ingin mengusung Gatot menjadi Cawapres, dinilai Ray hanya main-main saja. Partai berlogo matahari ini disebut pria yang kerap memakai peci hitam ini, hanya ingin mengetes pasar dan peta politik saja.

Pasalnya, jika harus memilih, kader PAN lebih setuju Ketua Umum mereka, Zulkifli Hasan untuk menjadi Cawapres Jokowi maupun Prabowo.

“PAN juga tidak seserius yang dibayangkan dalam mengusung Gatot,” pungkasnya.

 

Laporan Teuku Wildan

(Zaenal Arifin)