(ilustrasi/aktual.com)

Sindrom Stockholm, apa itu? Begini. Awalnya, tahun 1973, terjadi perampokan pada sebuah bank di Stockholm, Swedia. Para perampok menyandera karyawan bank selama lima hari, 23-28 Agustus 1973.

Begitu perampok membebaskan karyawan yang mereka sandera, para tersandera malah memeluki dan menciumi para perampok. Secara emosional para tersandera menyayangi penyandera, bahkan membela mereka. Malah ada korban sandera yang jatuh cinta kepada salah satu perampok, membatalkan pertunangan dengan pacarnya.

Baca Juga :  Para Seniman Dirikan "Rumah Budaya Satu-satu" untuk Menghadapi Tantangan Global

Istilah Sindrom Stockholm pertama kali dilontarkan oleh kriminolog dan psikiater Nils Bejerot yang membantu penanganan kasus itu. Jadi, Sindrom Stockholm adalah respons psikologis para korban kejahatan yang menunjukkan kesetiaannya kepada para pelaku kejahatan, tanpa memedulikan bahaya atau risiko yang mereka hadapi.

Sindrom inikah yang kini terjadi di Indonesia? Ketika penjajahan gaya baru melalui perang asimetris kian mengharu-baru, banyak anak negeri ini justru merasakan nikmat, saat itulah bangsa kita telah terjangkit sindrom stockholm.

Baca Juga :  Teror di Arab Saudi Membuka Ruang Bagi kelompok Tertentu di Indonesia

M Djoko Yuwono, Wartawan Senior dan Budayawan.

BAGIKAN