Jakarta, Aktual.com — Warga Muhammadiyah diajarkan untuk banyak beramal soleh sekalipun dalam kondisi penuh keterbatasan, demikian kata Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Dr. Haedar Nashir, M.Si dalam keterangan PCIM Malaysia, kepada wartawan, Selasa (03/11).

Disebutkannya, Muhammadiyah melalui pendekatan “sedikit bicara banyak bekerja” mengajarkan warganya untuk senantiasa beramal soleh meski penuh keterbatasan.

“Ini karena amal soleh diukur berdasarkan kondisi dan kemampuan masing-masing individu,” demikian yang disampaikannya dalam acara ‘Tabligh Akbar’ di Gedung Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu (31/10) lalu.

Menurut dia, ukuran kemampuan adalah subyektif, tergantung apa yang dimiliki oleh orang tersebut.

“Tidak tepat jika seseorang merasa tidak memiliki kemampuan untuk beramal soleh dan hanya akan beramal jika merasa telah mapan,” tegasnya.

Ciri-ciri menekankan amal sholeh ini adalah salah satu komponen ciri Islam yang berkemajuan.

Dalam konteks inilah Muhammadiyah dalam usianya yang lebih satu abad telah melahirkan berbagai institusi pendidikan, kesehatan dan kebajikan masyarakat di seluruh pelosok Indonesia sebagai wujud amal sholeh.

Menanggapi fakta besarnya jumlah buruh migran Indonesia di Malaysia, Haedar Nashir berharap mereka yang hijrah dari Indonesia ke Malaysia ini memaknai perpindahan mereka tidak sekadar sebagai perpindahan jasmani.

Tapi, lanjut dia, juga momentum rohaniah, yaitu sebagai sebuah hijrah untuk menjadi lebih baik sebagai hamba Allah SWT dan Khalifah Allah di muka Bumi.

Dalam kaitan ini pula, Koordinator Fungsi Penerangan, Sosial, Budaya (Pensosbud) KBRI Kuala Lumpur, Trigustono Suprianto, berharap agar PCIM dapat terus membantu mensosialisasikan pentingnya bekerja secara legal agar tidak mendapatkan masalah di kemudian hari.

Sementara itu, Tabligh akbar yang bertema ‘Semangat Hijrah menuju Islam yang berkemajuan’ itu dihadiri ratusan warga Indonesia di Malaysia termasuk buruh migran, mahasiswa, ibu rumah tangga.

Acara ini juga dihadiri kalangan pekerja profesional yang tergabung dalam Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah dan Aisyiyah (PCIM & PCIA) Malaysia, serta perwakilan beberapa ormas dan parpol Indonesia yang berbasis di Malaysia.

Artikel ini ditulis oleh: