Mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Moeldoko saat menjadi pembicara dalam seminar bertajuk Operasi Militer Selain Perang di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (12/10/2015). Diskusi yang diselenggarakan Fraksi Partai Demokrat tersebut membahas mengenai peran TNI dalam masyarakat di luar perannya dalam operasi militer.

Jakarta, Aktual.com – Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Moeldoko, memaparkan persoalan ancaman baik dari sisi global, regional, dan ancaman nasional. Ia menyebut keadaan global di masa depan akan penuh dengan jebakan dan perusakan.

Menurutnya, peran negara sangat krusial dalam menyikapi tantangan tersebut lantaran permasalahan yang akan dihadapi Indonesia sangat rumit dan bersifat lintas bidang.

“Kalau nggak hyperconnectivity, akan menimbulkan situasi yang emergency. Kalau enggak, stabilitas negara enggak akan terjadi dengan baik,” jelas Moeldoko ketika memberikan kuliah umum di kantor Para Syndicate, Jakarta Selatan, Rabu (4/10).

Keadaan ini disebutnya harus ditanggapi dengan cepat dan sigap oleh negara, termasuk juga oleh TNI. Ia berpendapat jika tantangan yang dihadapi oleh TNI yang memasuki usia ke-72 pada 5 Oktober besok, lebih berat dibandingkan beberapa dekade lalu.

Oleh karenanya, semua elemen yang ada dalam militer Indonesia harus cukup responsif dalam menyikapi permasalahan dan tantangan global yang dihadapi Indonesia pada masa yang akan datang.

“Kesimpulannya kalau semuanya prajurit menuju ke sana, maka tidak ada lagi, tidak sempat lagi mikir masalah politik,” tegasnya.

Lebih lanjut, Moeldoko pun memaparkan mengenai urgensi pemutakhiran alutista dalam tubuh TNI. Ia mengatakan jika hal tersebut mutlak dibutuhkan untuk melindungi keutuhan dan kedaulatan NKRI serta menciptakan rasa aman bagi seluruh rakyat Indonesia dari segala ancaman di masa depan.

Menurutnya, peradaban manusia telah memasuki masa yang disebut sebagai revolusi industri ke-4, yang meliluti sumber daya energi terbarukan, teknologi dan cyber.

Di samping itu, ia mencontohkan perubahan zaman bisa membuat seseorang dari suatu negara berkomunikasi dengan ISIS dan ikut berjuang bersamanya, bentuk perkembangan teknologi itulah yang harus diwaspadai.

“Kalau di luar sana semua sudah pakai semua indra, pakai pesawat tanpa awak. Kalau sekarang kita tidak berpikir cepat memikirkan bagaimana generasi keempat tadi, maka akan bisa cepat dikalahkan,” tutup Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) ini.

 

Laporan Teuku Wildan

Artikel ini ditulis oleh: