Jakarta, Aktual.com – Presiden Gerakan Pribumi Indonesia (GEPRINDO), Bastian P. Simanjuntak mengatakan, setiap 20 Mei Bangsa Indonesia memperingatinya sebagai hari kebangkitan nasional. Hari besar nasional ini didasari lahirnya sebuah organisasi kebangsaan Indonesia yang melakukan gerakan perlawanan terhadap kolonial Belanda.

“Benar bahwa Budi Utomo bukan organisasi politik akan tetapi memiliki implikasi bagi perpolitikan dimasa kolonial Belanda,” ujar Bastian, Jumat (19/5).

Ia mengungkapkan, kehadiran Budi Utomo yang bersifat sosial, ekonomi, kebudayaan serta tidak bersifat politik, telah memberi warna baru dalam gerakan pribumi yang tidak membedakan suku, agama dan keturunan. Dasar inilah, kata dia, yang menyebabkan Budi Utomo dapat diterima semua kalangan pribumi masa itu.

Baca Juga :  Dr Sutomo: Kisah Pergolakan Dalam Tradisi

“Usaha Dr Sutomo dan kawan-kawan patut diapresiasi sebagai tonggak kebangkitan pribumi,” jelasnya.

Bastian menceritakan, perkembangan Budi Utomo diikuti dengan pasang-surutnya. Patut dicermati mengapa Budi Utomo tidak fokus pada politik walaupun beberapa anggotanya ingin Budi Utomo berpolitik. Sebab, Situasi dan kondisi saat itu memang membutuhkan pemikiran cerdas, elegansi demi eksistensi organisasi serta kepentingan nasional.

“Strategi jitu itu ternyata cukup berhasil, Budi Utomo lebih fokus pada pendidikan dan kebudayaan. Kuatnya budaya Asing akan mempengaruhi budaya lokal serta nasional sehingga wajar bila pendekatan kultural dan edukasi penting dilakukan. Budi Utomo melakukannya demi kepentingan pribumi, pencerahan kepada pribumi melalui pendidikan,” ungkap dia.

Baca Juga :  Diminta Tak Bergantung ke Johannes, KPK Harus Ungkap Siapa Saja Penikmat e-KTP

Setelah pribumi memiliki kemapanan pola pikir, dengan sendirinya gerakan sosial-politik melawan imperialisme muncul. Kader-kader Budi Utomolah yang membidani lahirnya organisasi-organisasi sosial-politik dikemudian hari.

“Catatan penting dari sejarah lahirnya Budi Utomo yang pantas dijadikan teladan bagi kita semua adalah Budi Utomo merupakan gerakan nasionalisme yang tidak membedakan keturunan, suku dan agama serta dilakukan pribumi,” katanya.

“Kita patut malu bila membandingkan dengan kondisi kita hari ini, masih ada pribumi yang membenci pribumi lainnya karena bersekutu dengan Asing maupun kaki-tangan Asing yang ingin menguasai Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia,” sambungnya.

Seluruh rakyat Indonesia, lanjutnya, patut berpikir reflektif serta objektif sehingga mampu menangkap esensi dari perjuangan Budi Utomo. Perjuangan mereka ingin mengangkat harkat dan martabat pribumi dengan menyingkirkan perbedaan. Ancaman polarisasi pribumi pada hari ini hendaknya dapat kita antisipasi.

Baca Juga :  Negara-negara di Afrika Segera Buat Zona Perdagangan Bebas

Karenanya, GEPRINDO mengajak pribumi agar mengedepankan persatuan dan kemajuan bangsa diatas kepentingan pribadi dan kelompok.

“GEPRINDO mengajak semua komponen bangsa agar kembali pada semangat kelahiran Budi Utomo. Sebuah kebangkitan pribumi yang ingin mengangkat harkat dan martabat pribumi agar pribumi menjadi tuan rumah dinegeri sendiri. 20 Mei harus menjadi tonggak kebangkitan pribumi sebagaimana fakta sejarah mengatakan demikian,” pungkasnya.

(Nailin Insa)

()