Jakarta, Aktual.com – Saudaraku, pergantian tahun hanyalah pergeseran bilangan; tidak dengan sendirinya membawa substansi baru.

Betapapun, kedatangan tahun baru menerbitkan fajar kesadaran betapa cepat kilatan waktu berlalu, melewati kita dalam tumpukan masalah yang tertinggal di masa lalu.

Degup jantung kita ibarat detak waktu, yang setiap detiknya mengabarkan kehilangan dan penantian.  Yang berlalu adalah kekinian yang lekas silam. Yang mendatang adalah kekinian yang lekas menjemput. George Orwell mengatakan, ”Who controls the past controls the future, who controls the present controls the past.” Maknanya, kemarin dan hari esok ditentukan hari ini.

Dengan angin keburukan yang kita tabur hari ini, masa lalu menjadi hantu, masa depan menuai badai. Dengan biji kebaikan yang kita tanam hari ini, masa lalu menjadi lumbung keagungan, dan masa depan menyongsong panen kebahagiaan.

Sebuah sekte rahasia menciptakan tanda peringatan tentang pentingnya waktu di ruang bawah tanah Gereja Santa Maria della Concezione, di puncak Stupa Spanyol di Roma. Pada lantai ruangan biarawan Capuchin, di kaki gundukan tulang-belulang manusia, tertulis sebuah inskripsi, ”What you are, they once were/What they are, you will be.”

Maka, seperti tertulis dalam Injil Matius (6:34), ”Jangan cemaskan esok hari karena hari esok akan mencemaskan dirinya sendiri.” Dikatakan pula oleh Nabi Muhammad, ”Sekiranya engkau tahu kiamat terjadi esok hari, sedang di genggaman tanganmu ada benih, maka tanamkanlah.”

Seorang muda bertanya kepada syekh tua yang sedang menanam pohon. ”Untuk apa menanam sesuatu yang tuan tak akan menikmati buahnya? Syekh itu pun menukas, ”Apakah yang kamu makan adalah hasil yang kau tanam sendiri?”

Kecemasan akan hari esok hanya bisa diatasi dengan menanam kebajikan hari ini. Jika pandangan kita ke depan digayuti kabut kerisauan dan pesimisme, sebab utamanya karena kita berhenti menanam harapan untuk masa depan.

Banyak orang menyia-nyiakan waktu, seolah waktu itu berlimpah, berputar melingkar. Sesungguhnya, waktu itu ibarat aliran sungai. ”Tak ada seorang pun yang bisa melintasi sungai yang sama dua kali,” ujar Heraclitus. Sungai terus mengalir, manusia terus berubah.

Waktu adalah milik kita yang paling berharga. Dalam kaidah ekonomi, semakin jarang sesuatu dan semakin sering digunakan, maka akan semakin bernilai. Emas, misalnya, cadangannya terbatas, tetapi banyak digunakan, maka nilainya sangat tinggi. Kebanyakan hal yang bisa dimiliki bisa diisi ulang. Cadangan berlian dan emas bisa ditemukan, uang bisa dicetak kembali, tetapi tidak dengan waktu. Waktu yang hilang tidak tergantikan. Peribahasa ”waktu adalah uang” tidak sepenuhnya tepat. Waktu, sebagai sumber daya yang paling jarang, jauh lebih berharga daripada uang.

Dalam penggunaan waktu juga berlaku prinsip ”opportunity costs”. Bahwa apa pun yang kita pilih untuk diperbuat berisiko hilangnya kesempatan melakukan hal lain. Dengan uang, kita memiliki pilihan konservatif dengan menyimpannya di bank, tetapi tidak dengan waktu. Kita mengeluarkan waktu setiap saat. Kita ”adalah jam yang setiap saat waktu berkata sendiri”, ujar Shakespeare.

Waktu bukanlah keabadian, sekadar labirin tanda tanya yang di setiap ujung jeda dan pintunya selalu sisakan misteri. Akan tetapi, setiap jejak tidaklah sia-sia. Seperti samudra bermula dari tetes air. Setiap darma memberi harapan masa depan. Lukisan masa depan adalah pilihan kita menggoreskan warna pada kanvas masa kini.

(Yudi Latif, Makrifat Pagi)