Dua perempuan membakar jagung untuk dijual di Desa Kambuaya, Papua Barat, Kamis (21/4). Berdasarkan data BPS, tingkat kemiskinan di Papua Barat pada 2015 tertinggi kedua di Indonesia, yaitu sebanyak 225.360 jiwa atau 25,82 persen dari total penduduk. ANTARA FOTO/Rosa Panggabean/aww/16.

Jakarta, Aktual.com – Jumlah penduduk miskin di Papua Barat kembali meningkat pada kurun waktu September 2016 hingga Maret 2017.

Pelaksana Harian Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Papua Barat Bona Ventura Hard di Manokwari, Senin, mengatakan, pada September 2016 jumlah penduduk miskin di Papua Barat tercatat sebanyak 223,60 ribu jiwa atau 24,88 persen dari total jumlah penduduk di daerah tersebut.

Baca Juga :  Dua Pencuri Spesialis Rumah Kosong Dapat Hadiah Timah Panas Dari Polisi

Data terbaru pada Maret 2017 meningkat menjadi 228,38 ribu jiwa atau 25,10 persen dari total jumlah penduduk Papua Barat.

“Secara prosentase penduduk miskin di Papua Barat meningkat sebesar 0,22 persen. Kenaikan ini terjadi baik di daerah perkotaan maupun pedesaan,” kata dia.

Sesuai hasil survei BPS, kenaikan ini terjadi akibat adanya inflasi atau kenaikan harga pada komoditas beras dan rokok. Dua komoditas ini memiliki andil cukup besar dalam peningkatan angka kemiskinan di daerah tersebut.

Baca Juga :  31 Calhaj Kloter Pertama di Jatim Tertunda Berangkat

Di wilayah perkotaan, kata dia, beras membawa pengaruh 20,61 persen terhadap pembentukan garis kemiskinan, dipedesaan 18, 52 persen. Sementara komoditas rokok di pedesaan menyumbang 18, 14 persen dan perkotaan 9,91 persen.

(Nebby)