Di kala pilpres 2019 sudah di ambang pintu, ketika beberapa tokoh nasional semain gencar digadang-gadang oleh partai politik maupun media massa. Maka sontak muncul tanya, bagaimana menggali kemunculan seorang figure atau sosok yang kiranya dapat diterima oleh berbagai elemen masyarakat dan punya legitimasi kuat. Kharisma dan kualitas kepemimpinan sebuah bangsa, nampaknya bertautan erat dengan tempat di mana sang pemiminpin itu berada.

 

Mantan Presiden Amerika Serikat Richard Nixon, pada 1981 menerbitkan sebuah buku yang cukup menggugah dan mencerahkan. Bertajuk Leader, Profiles and Reminiscencis of Men Who Shaped the Modern World. Dalam buku ini Nixon berkesempatan mempelajari secara langsung para pemimpin dunia yang mana Presiden AS ke-37 itu mengencal secara pribadi para pemimpin dunia seperti Presiden Prancis Charles de Gaulle, Douglass McArthur, Perdana Menteri Jepang Shigeru Yoshida, Kanselir Jerman Barat Konrad Adenauer, Perdana Menteri Inggris Winston Churchill. Perdana Menteri Cina Zho Enlai, dan Presiden Indonesia Sukarno. Presiden Rusia Joseph Stalin juga dia sorot namun sang ahli waris Lenin asal Georgia tersebut tidak sempat dia temui dan kenal secara dekat.

 

Ada beberapa poin penting yang jadi pondasi analisis Nixon tentang mengapa seorang pemimpin bisa berhasil dan mengapa lainnya gagal. “Aku menyaksikan sejumlah pemi8mpin yang berhasil, dan sejumlah lainnya gagal. Dan aku berkesampatan mengaanalisis sebab-sebabnya dari perspektif pengalamanku sendiri.” Demikian tulis Nixon untuk membingkai kerangka pemikirannya dalam merajut para tokoh yang ditulisnya.

 

Selanjutnya Nixon mengingatkan bahwa manusia ntidak dapat memahami sepenuhnya apa yang mendorongnya  dan menggerakkan seorang pemimpin, apabila dia hanya duduk dipinggiran, dan jadi penonton saja.

 

Berdasarkan pada kajian mengenai para pemimpin dunia tersebut, Nixon secara jeli melihat bahwa masing-masing pemimpin pada suatu negara-baangsa tertentu, punya tuntutan-tuntutan yang berbed-beda sebagai penggerak kemunculan seorang pemimpin baik di kancah revolusi maupun pembangunan.

 

Terkait Bung Karno, presiden pertama RI, menarik penilaian bung Nixon mengenai sang proklamator kita ini. “Sukarno merupakan contoh paling baik dari seorang pemimpin revolusioner yang berkemampuan lihai meruntuhkan suatu sistem, namun tidak dapat memusatkan perhatiannya utnuk membangunkannya kembali.”

Image result for sukarno foto

Nah di sinilah Nixon sampai pada poin penting dan menarik. “Setiap pemimpin tampil dalam suatu kombinasi khusus dari tiga unsure: waktu, tempat dan situasi.” Lebih lanjut Nixon menulis, seorang tokoh yang mampu berperan di suatu negara, tidak dengan sendirinya akan dapat berperan besar, apabila ia harus tampil memimpin negara lain. Betapa hebatnya seoragn Winston Churchill, ya dia akan berhasil memimpin rakyat Inggris.sebagai perdana menteri. Tapi Churchill tidak mungkin akan seberhasil Konrad Adenauer sebagai kanselir Jerman Barat.

 

Kerangka pandangan Nixon dalam menganalisis keberhasilan para pemimpin dunia tersebut, sontak menyadarkan saya betapa besarnya faktor geopolitik dalam membentuk karakter kepemimpinan seorang tokoh pada kurun masa tertentu. Dengan begitu, selain  faktor situasi atau momentum, lingkungan dan tempat juga sangat berpengaruh dalam membentuk kepemimpinan khas sebuah bangsa sehingga dalam sejarah kelak disebut pemimpin legendaries sebagaimana para pemimpin yang diurai Nixon lewat bukunya ini.

 

Jika sepakat bahwa lingkungan dan tempat memainkan peran pembentukan karakter kepemimpinan seseorang, berarti geopolitik memainkan peran penting. Sebab geopolitik berarti berbicara mengenai tanah dan air,serta manusianya. Geppolitik menggambarkan betapa manusia dan tempat dia bermukim itu bersenyawa. Saling mempengaruhi satu sama lain.

 

Inilah yang saat ini di negeri kita belum banyak disadari. Bahwa seroang pemimpin yang kuat legitimasi dan kharismana, biasanya karena membuka diri untukj dibentuk oleh geopolitik negerinya.  Begitu seorang pemimpin dibentuka oleh geopolitikmya, seorang pemimpin bukan saja memahami apa yang tersurat dinyatakan rakyatnya. Bahkan mengerti apa yang tidak dikatakan oleh rakyatnya.

 

Geopolitik bukan saja seseorang pemimpin bersenywa dengan asal-usul dan sejarah orang tua dan leluhurnya, melainkan juga dengan sejarah daerahnya dari awal mula ada hingga perkembangannya searang, maupun corak budaya dan kearifan lokal daerah di tempat mana si pemimpin itu berada. Singkat cerita, seorang pemimpin bersenyawa dengan tanah dan air di bumi dia bermukim.

 

Maka para pemimpin berbagai aliran ideologi maupun haluan politik, bisa berhasil jika seorang pemimpin bersenyawa dengan geoopolitik bangsa dan negaranya. Pemimpin seperti itu, amat mengenali kekuatan-kekuatan material maupun immaterial/spiritual dari masyarakat dan bangsanya. Bahkan mengenali kekuatan-kekuatan rahasia rakyatnya.

 

Sebut saja mulai dari Vladimir Ulyanov Lenin, Josep Stalin, Mao Zhe Dong dan Chou Enlai, Winston Churchill, Charles de Gaulle, hingga para pemimpin kontemporer mulai dari Ayatullah Khomeini,Fidel Castro, dan Hugo Chavez serta Vladimir Putin. Para pemimpin tersebut bisa bertahan bahkan hingga akhir hayat, karena mengenai geopolitik yang membentuk watak kepemimpinannya.

 

Inilah aspek mengapa Nixon di awal tulisannya memilah ada beberapa pemimpin yang berhasil sementara sejumlah lainnya gagal, atau bahkan gagal total sebagai pemimpin bangsanya.

 

Kejelian seorang pemimpin dalam menjawab tantangan geopoolitik bangsanya pada kurun masa tertentu, pada gilirannya akan muncul sebagai pemimpin lekat di hati rakyatnya. Jika gagal paham dan mengerti tantangan dan tuntutan geopolitiknya, maka analisis Nixon ini patut direungunkan: “Seorang tokoh yang tampil pada masa pergerakan nasional, belum tentu ia juga akan cemerlang sebagai pemimpin di masa sesudah kemerdekaan.”

 

Menurut saya ini bukan sekadar karena sudah beda situasinya sebagaimana hendak ditegaskan Nixon dalam bukunya. Pula bukan sekadar perbedaan antara era pergerakan nasional pra kemerdekaan dan era sesudah merdeka. Namun karena adanya tuntutan dan tantangan geopolitik yang berbeda pula.Inilah pentingnya para pemimpin bangsa untuk mengenali tanda-tanda zaman.  .

Hendrajit, redaktur senior.