BAGIKAN
Wakil Presiden Jusuf Kalla menerima kuniungan Wakil Presiden AS Mike Pence di Istana Wapres, Jakarta, Kamis (20/4). Dalam pertemuan tersebut, Wapres Mike Pence memaparkan seputar kebijakan luar negeri baru
Wakil Presiden Jusuf Kalla menerima kuniungan Wakil Presiden AS Mike Pence di Istana Wapres, Jakarta, Kamis (20/4). Dalam pertemuan tersebut, Wapres Mike Pence memaparkan seputar kebijakan luar negeri baru "America First". AS akan fokus kepada peningkatan hubungan perdagangan dan investasi yang menguntungkan negaranya. Kebijakan America First dicanangkan sejak Trump berkampanye presiden tahun lalu. Berdasarkan program ini, Trump mengedepankan rakyat Amerika dan keamanan Amerika di atas segalanya. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, Aktual.com – Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Mike Pence mendatangani kesepakatan bisnis dengan Pemerintah Indonesia. Namun kedatangan orang kedua setelah Presiden Donald Trump itu dinilai belum memberikan respon positif bagi pelaku pasar keuangan.

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia mengatakan, langkah Pence ke Indonesia sekalipun ada beberapa kesepakatan masih dianggap belum terlalu berpengaruh ke pasar. Pasar masih melihat dari sisi fundamental ekonomi dan fundamental dari emiten tersebut.

“Belum ada karena itu kan kedatangan diplomatis. Tapi yang ada saat ini fundamental perseroan tahun 2016 lebih memengaruhi pasar dan bisa dilihat bagaimana asing itu sampai di atas Rp60 triliun melakukan buy ke ke Indonesia. Itu positif,” ujar Tito, di Jakarta, Jumat (21/4).

Dijelaskan, masih banyak investor yang belum terlalu mengetahui secara detil rencana dari Pence datang ke Indonesia ini. Karena dana asing yang masuk ke pasar modal itu bukan karena sentimen Wapres AS datang, lebih ke faktor kinerja emiten tersebut.

“Sejauh ini, saya belum lihat ada hubungannya ya (ke pasar),” ujarnya.

Kunjungan Pence sendiri tadi siang memang sudah menghasilkan kesepakatan bisnis. Seperti yang diutaran Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi. Menurut dia, ada dua kesepakatan bisnis yang ditandatangani dengan nilai mencapai US$ 8 miliar.

Kesepakatan tersebut ditandatangani di depan Wakil Presiden, Jusuf Kalla. Kesepakatan pertama, dilakukan oleh PT PLN (Persero) dengan Pacific Infracapital LLC. Nilainya mencapai US$ 2 miliar.

Kesepakatan bisnis kedua, dijalin antara PT Pertamina (Persero) dengan Exxon dengan nilai mencapai US$ 6 miliar. “Semua berkaitan dengan energi, dari masalah limbah jadi energi, geothermal,” tegas Menlu.

(Busthomi)

(Soemitro)