Jakarta, Aktual.com – Laju Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal I-2017 memang mengalami surplus. Namun demikian tren defisitnya masih tinggi, sehingga jika tak diantisipasi, bakal kembali mengalami defisit lebih besar.

Apalagi memang, sentimen dari kebijakan bank sentral di Asia bisa jadi akan risiko besar ke depannya. Sebab bakal mengganggu NPI dan sekaligus juga cadangan devisa.

Baca Juga :  BI: Penjualan Eceran Juli 2015 Melambat

“Di kuartal I-2017 itu, surplus NPI mencapai USD 4,5 miliar. Surplusnya NPI ini karena adanya surplus transaksi modal dan finansial yang melampaui defisit transaksi berjalan serta tingginya surplus portifolio investment,” papar Deputi Direktur Departemen Statistik Bank Indonesia (BI), Tutuk S Cahyono di Jakarta, Jumat (19/5).

Kendati mencapai surplus NPI, kata dia, pihaknya tetap akan antisipasi risiko ke depannya, seperti kebijakan bank sentral Asia atau pun kebijakan suku bunga dari The Federal Reserve atau bank sentral AS.

Baca Juga :  DPR: Proyek Infrastruktur Jor-Joran Bisa Bikin Blunder

“Memang, ini (surplus) jadi hal baik. Kita harus jaga. Kita juga akan terus mengawasi perkembangan global khususnya dari kebijakan bank sentral di negara-negara Asia. Itu risiko dan tantangan yang harus kita hadapi ke depan,” jelasnya.

(Ismed Eka Kusuma)