In this picture released by an official website of the office of the Iranian supreme leader, Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei attends a meeting with a group of religious performers in Tehran, Iran, Thursday, April 9, 2015. Iran's top leader on Thursday stopped short of giving his endorsement to the framework nuclear deal struck last week between Teheran and world powers, while the country's president warned separately that Tehran's approval of a final deal depends on the immediate lifting of all sanctions related to its controversial nuclear program. (AP Photo/Office of the Iranian Supreme Leader)

Beirut, Aktual.com – Iran “mengecam keras” keputusan Amerika Serikat untuk memindahkan kedutaannya ke Jerusalem dan pengakuannya atas kota tersebut sebagai ibu kota Israel, menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri pada Rabu yang dikutip media pemerintah.

Langkah tersebut melanggar resolusi internasional, kata pernyataan tersebut.

Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei mengatakan bahwa Amerika Serikat mencoba untuk mengacaukan wilayah tersebut dan memulai sebuah perang untuk melindungi keamanan Israel.

Baca Juga :  Presiden Obama Berencana Kenakan Pajak Perusahaan AS di Luar Negeri

Tindakan AS akan menghasut umat Islam dan membangkitkan intifada baru, mendorong ekstremisme serta tindakan kekerasan yang tanggung jawabnya akan dibebankan pada (Amerika Serikat) dan rezim Zionis (Israel),” kata pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran.

Pernyataan tersebut juga meminta masyarakat internasional untuk memberi tekanan kepada Amerika Serikat dengan tidak mendukung pemindahan kedutaan atau mengakui Jerusalem sebagai ibu kota Israel.

Baca Juga :  Parlemen Thailand Sepakati Permintaan Raja untuk Perubahan UUD

“Republik Islam Iran telah menegaskan kembali penyebab terbesar bagi kehancuran keseimbangan dan keamanan di Timur Tengah adalah pendudukan yang terus berlanjut dan bias serta dukungan tegas dari pemerintah Amerika Serikat untuk Rezim Zionis,” kata pernyataan tersebut.

“Dan perampasan dari warga Palestina yang tertindas atas hak utama mereka dalam membentuk negara Palestina yang merdeka, membangun pemerintahan dengan Quds sebagai ibu kotanya,” katanya, menggunakan nama Arab untuk Jerusalem.

Baca Juga :  Hizbullah Lebanon Minta Israel Lucuti Reaktor Dimona

ANT

BAGIKAN