Jakarta, Aktual.com – Saudaraku, sekali hujan turun, rerumputan kering menghijau kembali. Ketulusan memberi dan melani menumbuhkan spontanitas daya bangkit bagi semesta kehidupan.

Filsuf Konfusius, Mencius, meyakini bahwa jiwa manusia sehat tidak akan kosong dari rasa simpati kepada sesama. Jika seseorang melihat anak kecil berdiri di tubir jurang, secara refleks dia akan menghela anak tersebut tanpa sempat berpikir apa suku, agama, atau keuntungan yang didapat.

Baca Juga :  Pendidikan Benih Harapan, Tumbuhkan Anak Didik Berkarakter

Mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri adalah kaidah emas bagi kebahagiaan hidup. Kebahagiaan tertinggi, menurut Viktor Frankl, tidaklah terengkuh melalui pencapaian kehendak untuk bersenang (the will to pleasure) atau kehendak untuk berkuasa (the will to power), tetapi dalam pencapaian kehendak menemukan makna (the will to meaning).

Dalam istilah Karen Armstrong, ā€¯Neokorteks kita telah menjadikan kita makhluk pencari makna yang menyadari akan kebingungan dan tragedi nestapa kita, dan jika kita tidak menemukan semacam arti paling mendalam dari hidup, kita mudah jatuh ke lembah keputusasaanā€¯. Adapun makna hidup terengkuh dengan jalan mengembangkan welas asih: bergembira dalam kebahagiaan yang lain dan bersedih dalam kepedihan yang lain.

Baca Juga :  Mengapa Pancasila Suatu Keharusan? (Bagian 4)

Ketulusan welas asih….

(Ismed Eka Kusuma)