Wisatawan menikmati keindahan Pura Lempuyang, Karangasem, Bali, Selasa (3/10). Ditengah status awas gunung agung, wisatawan yang berkunjung ke kawasan Karangasem masih banyak peminatnya, Salah satu tujuannya adalah Pura Lempuyang yang menghadirkan pemandangan cantik juga sangat indah. Bahkan, Anda bisa melihat keindahan panorama Gunung Agung yang diselimuti awan. AKTUAL/Tino Oktaviano

Karangasem, Aktual.com – Memasuki hari ke-22 sejak ditetapkan awas, aktivitas di bawah perut Gunung Agung msih tetap tinggi. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) belum melihat ada tanda-tanda penurunan aktivitas gunung setinggi 3.142 mdpl tersebut. Itu sebabnya, meski sudah hampir satu bulan namun rekomendasi PVMBG tetap sama, yakni menetapkan gunung yang terletak di Kabupaten Karangasem itu berada pada level IV.

‎”Aktivitasnya masih relatif tinggi. Aktivitasnya masih di level IV, masih awas. Rekomendasi kita masih sama agar masyarakat tidak beraktivitas di dalam radius 9 kilometer dan perluasan area ke arah‎ utara, timur laut, tenggara selatan, barat daya sejauh 12 kilometer‎,” kata Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana di Pos Pengamatan Gunung Api Agung di Desa Rendang, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, Rabu (18/10).

Kemarin, Selasa (17/10) kata dia, asap sulfatara terpantau dengan ketinggian 300-500 meter. Hari ini, asap yang merupakan indikasi pelepasan gas itu terpantau setinggi 200 meter. Sementara itu, dari laporan pengamatan PMVBG mulai pukul 06.00 WITA-12.00 WITA gempa tremor non-harmonic tercatat dua kali mengguncang Gunung Agung dengan durasi 88-140 detik.

‎”Untuk ketinggian asap masih lebih rendah dari yang pernah teramati oleh kami. Paling tinggi yang kita amati pada 7 Oktober 2017 setinggi 1.500 meter,” ucap dia. Devy melanjutkan, curah hujan tinggi hanya berpengaruh pada ketebalan asap sulfatara saja, tidak pada tekanannya.

“Sebetulnya hujan bisa mempengaruhi ketebalan asap. Air hujan yang masuk dipanaskan, stim dari magma. Ketika masuk air, dia berubah jadi putih. Tapi kalau tekanan itu tidak dipengaruhi air hujan. Tekanan itu dipengaruhi magma dari dalam yang masih kuat menekan,” katanya.
Laporan Bobby Andalan, Bali

Artikel ini ditulis oleh: