Gross Split. (ilustrasi/aktual.com)

Jakarta, Aktual.com – Keberadaan sumber daya alam pada suatu negara tidak serta merta menjadi jaminan bagi kesejahteraan pada suatu negeri itu, faktanya banyak negara yang tidak begitu memiliki kekayaan sumber daya alam, mereka tetap mampu eksis bahkan menjadi negara maju. Terlepas bagaimana cara bertahan, mereka tidak bisa menghindar dari permintaan sumber daya alam, termasuk harus memenuhi kebutuhan minyak dan gas (Migas) sebagai energi primer.

Patut disyukuri Indonesia merupakan salah satu negara yang dikaruniai keanekaragaman sumber daya alam, meliputi komoditas migas. Sektor ini telah banyak berkontribusi untuk pembangunan nasioal. Dalam program Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) III yang dicanangkan rezim Soeharto pada rentang tahun 1979 – 1984, kontribusi sektor migas untuk Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) berperan rata-rata sebesar 66,9 persen dari pemerimaan dalam negeri.

Pada 1979 tercatat penerimaan dari dalam negeri sebesar Rp6.696,8 milyar dengan kontribusi sektor migas Rp4.259,6 milyar. Tahun 1980 sektor migas memperoleh Rp7.019,6 milyar dengan total penerimaan dalam negeri Rp10.227,0 milyar. Tahun berikutnya 1981 tercatat penerimaan sektor migas Rp8.627,8 milyar dari total penerimaan dalam negeri Rp12.212,6 milyar. Tahun 1982 sebesar Rp8.170,4 milyar dari penerimaan dalam negeri berjumlah Rp12.418,3 milyar. Dan pada APBN tahun 1983/1984, kontribusi sektor migas sebesar Rp9.520,2 milyar pada penerimaan dalam negeri berjumlah Rp14.432,7 milyar.

Selanjutnya, # Migas Bukan Lagi Tumpuan Penerimaan Negara

(Ismed Eka Kusuma)