Kiri-kanan; Ketua GP Ansor Saleh Ramli, KH Najib Bukhori, KH Abdul Ghofur Maimun Zubair, Dansatkornas Banser Alfa Isnaeni, Ketua Umum PP GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas saat menggerlar jumpa persnya hasil Masail Kiai Muda PP GP Ansor di kantor PP GP Ansor, Jakarta, Minggu (12/3/2017). Dalam hasil Masail Kiai Muda PP GP Ansor salah satunya Siap Salatkan Jenazah yang Ditelantarkan Warga.

Jakarta, Aktual.com – Wakil Rais Am PBNU, KH Miftahul Akhyar menegaskan sikap NU dalam Pilkada DKI Jakarta di putaran kedua ini harus memilih pemimpin yang muslim. Karena memilih pemimpin non muslim itu haram hukumnya.

Sikap kyai sepuh NU ini menanggapi banyaknya pendapat generasi muda NU seperti dari Gerakan Pemuda Ansor yang malah memilih pemimpin non muslim.

“Memilih pemimpin Islam sebenarnya hak yang dijamin konstitusi. Tidak ada konstitusi yang dilanggar. Lalu kenapa malah memilih pemimpin non muslim? Keblinger itu,” kata Kyai Miftahul dalam keterangan resmi yang diterima wartwan, di Kantor PWNU DKI Jakarta, Sabtu (15/4).

Baca Juga :  GP Ansor : Gerakan Radikal Islam Sudah Masuk Buku Anak-Anak

Dia menegaskan, dirinya banyak mendengar banyak warga Nadhliyin yang menyebutkan kalau dari sudut pandang konstitusi dibolehkan pemimpin non muslim.

“Tapi kita sebagai warga NU harus ingat, secara fiqih kita mewajibkan umat Islam memilih pemimpin muslim. Dan itu juga (memililh pemimpin muslim) haknya dijamin konstitusi,” tandas dia.

Makanya, sambung dia, bagi yang memilih pemimpin non muslim seperti anak-anak GP Ansor itu, karena hanya melihat hendak menolak dhoror-nya cagub Anies (karena didukung PKS), padahal belum jelas dhoror-nya (mafhum).

Baca Juga :  Jokowi Ambil Alih PDIP Melalui Politik Survei

“Akhirnya, mereka (Ansor) justru menarik beberapa dhoror yang nyata yaitu Ahok dan orang-orang kafir. Ini keblinger. Lho wong masih bisa memilih pemimpin muslim, kok malah menghalalkan memilih non muslim,” katanya.

Jadi menurut sang Kyai, tidak benar dalilnya anak-anak Ansor ini. Mestinya, kata dia, dipakai dalil sebaliknya, yaitu memperbolehkan memilih Ahok akan dipakai wasilah non muslim lainnya merebut pimpinan negara, termasuk Presiden. Itu haram!

“Ini modus (anak Ansor). Kelihatan sekali ada kepentingan. Masa, pemuda-pemuda NU cuma mengerjakan ‘PR’ dari orang lain yang kepentingannya justru banyak merugikan,” kecam dia.

Baca Juga :  Aspirasi Warga Buntu Ibarat Bisul, Dikhawatirkan Meledak di Pilkada DKI

Bahkan mestinya, kata dia, Ansor menyuruh Ahok atau PDIP dan partai pendukungya supaya mundur. Karena, dia (Ahok) yang menjadi sebab.

“Ini malah dibolak-balik. Yang mengharamkan (pilih Ahok) dianggap sebab. Padahal, itu hanya akibat. Ya, akibat dari ulah Ahok sendiri. Karena Ahok itu, selain non muslim juga omongan dan akhlaknya itu jelek. Penista. Kok dibela-bela,” jelasnya.

Menurut dia, sudah ada keputusan Muktamar yang mengharamkan memilih gubernur non muslim. “Kok mereka (Ansor) masih neko-neko (macam-macam),” kecamnya.

(Busthomi)

(Arbie Marwan)