GHOST FLEET DAN FIKSI INDONESIA 2030

Jakarta, Aktual.com – Sebagai tokoh oposisi pada periode ini, pernyataan Prabowo Subianto tentu menjadi hal yang ditunggu-tunggu oleh publik. Maka tidak heran, ketika muncul pernyataan dari beliau, maka media-media tanah air akan ramai mengulasnya. Termasuk soal pernyataannya di acara Gerinda beberapa hari lalu.

Karena dalam pidatonya tersebut bernuansa politik dan cenderung warning bagi elit-elit pemerintah. Maka lahirlah berbagai respon atas pernyataan Prabowo. Namun menariknya, pidato yang sebenarnya berisi warning bagi Indonesia masa depan, kemudian dipersepsikan oleh sebagian kalangan sebagai pidato yang pesimis. Sebab ada kalimat Indonesia Bubar 2030.

Terlebih lagi, referensi pidato Prabowo salah satunya adalah dari novel fiksi berjudul Ghost Fleet. Sehingga sebagian kalangan pun ramai-ramai menertawakan Prabowo, dan menuduh Prabowo tidak rasional karena telah membawa logika fiksi ke dalam kehidupan bernegara.

Saya tidak ingin terlalu dalam mengupas isi pidato Prabowo, yang ingin saya soroti adalah pada novel Ghost Fleet, yang ditulis oleh P.W Singer & August Cole. Secara urutan karya tulis, novel memang tergolong ke dalam karya fiksi. Namun Ghost Fleet, bukan sembarang karya fiksi yang bisa dianggap remeh. Sebab novel ini ditulis oleh dua orang yang ahli pertahanan dan ahli peperangan pada tingkat global.

Nama pertama yang menulis novel ini adalah P.W Singer. Seorang ilmuwan politik Amerika, yang mendapat gelar Ph.d dari Universitas Harvard dan A.B dari woodrow wilson school of public and internasional affairs di princeton. Dua institusi pendidikan yang sangat terkemuka di dunia. Singer juga termasuk kedalam daftar 100 pemikir global teratas oleh foreign policy, salah satu majalah amerika yang fokus pada kebijakan-kebijakan luar negeri Amerika. Selain itu, Singer juga telah dinobatkan oleh defense news sebagai salah satu dari 100 orang yang berpengaruh dalam masalah pertahanan. Sebelum menulis Ghost Fleet, Singer pernah menulis 4 buku non fiksi, yang mana buku-buku Singer tersebut merupakan buku bacaan wajib bagi semua militer Amerika dan Australia.

Kemudian nama kedua dari penulis Novel ini adalah August Cole. Orang yang sama mendapat gelar Ph.d dari Universitas Harvard dan BA dari University of Pennsylvania, jurusan Hubungan Internasional. Dia pernah menjadi direktur proyek Art of Future War US, sebuah proyek yang memiliki konsen memprediksi konflik-konflik global yang akan terjadi dimasa depan. Pada tahun 2007-2010, Cole pernah menjadi kontributor pada Wall Street Journal, khususnya pada tema-tema pertahanan. Konflik-konflik inteligen, cyber army, dan persoalan-persoalan keamanan nasional US, banyak dipecahkan oleh August Cole ini. Sehingga dia merupakan salah pemikir pertahanan yang berpengaruh ditataran militer Amerika.

Kedua penulis ini sebelumnya juga sama-sama bukan penulis fiksi. Hampir semua tulisan yang telah mereka terbitkan adalah non fiksi, ilmiah. Dengan semua latar belakang itu, tentu menjadi penting untuk diperhatikan, mengapa tiba-tiba kedua ahli pertahanan ini membuat tulisan fiksi. Ke dalam bentuk novel yang awal distribusinya hanya terbatas, dan hanya dibaca oleh kalangan terbatas pula. Saya sendiri juga baru mendapatkan salinan novel ini setelah ramai ulasan tentang pidato Prabowo.

Novel Ghost Fleet ini secara garis besar adalah bercerita tentang pengaruh politik Amerika di kawasan Atlantik, yang kemudian sampai kepada perang antara Amerika dan China. Bagi orang-orang yang mengerti dengan peta politik global, novel ini memang seperti sebuah isyarat, yang kemudian menjelaskan mimpi buruk tentang perang dunia dimasa depan.

Karena begitu pentingnya hasil kajian Singer dan Cole ini untuk diketahui oleh masyarakat dunia. Maka saya menduga, keputusan mereka menulis prediksinya kedalam bentuk novel, adalah salah satu cara dari mereka untuk menjelaskan, bahwa dunia ke depan adalah dunia yang akan dipenuhi oleh konflik, huru hara dan perang. Karena itulah, mereka menerangkannya kedalam novel agar kemudian mudah dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat dunia, sehingga seluruh negara-negara dan juga masyarakat khususnya yang ada diwilayah Asia Pasifik, dapat mewaspadai gejolak konflik tersebut.

Maka menarik apa yang telah dilakukan oleh Prabowo, yang kemudian beliau mempropagandakan ini kepada segenap masyarakat Indonesia. Mengingat Indonesia adalah wilayah yang secara geografi, sangat berpotensi untuk menjadi salah satu wilayah percaturan politik antara Amerika dan China. Terlebih lagi, akhir-akhir ini persaingan antara China dan Amerika semakin terasa di Indonesia.

Maka seharusnya, seluruh masyarakat Indonesia, khususnya para elit-elit pemerintahan, peka terhadap semua isyarat ini. Dan kemudian mempersiapkan strategi terbaik, sebelum konflik itu benar-benar terjadi. Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Soekarno ketika membawa Indonesia dengan politik bebas aktif, dan menginisiasi gerakan non blok, menghimpun negara-negara berkembang untuk tidak memihak pada blok barat (Amerika) maupun blok timur (Uni Soviet) yang masing-masing saling berebut pengaruh pasca meletusnya perang dunia II.

Jakarta, 26 Maret 2018

Oleh : Setiyono
(Pengkaji Sejarah, Hukum dan Demokrasi)