Taujih Syeikh DR Yudi Latif (kiri) bersama Khodim Zawiyah Arraudhah Al Akh Muhammad Danial Nafis (kanan) saat acara Kajian Spesial Ramadhan di Zawiyah Arraudah, Jalan Tebet Barat VIII, No 50, Jakarta Selatan, Minggu (4/6/2017). Dalam kajian Spesial Ramadhan ini yang bertamakan "Pancasila dalam Tasawuf Islam". AKTUAL/Munzir

Jakarta, Aktual.com – Saudaraku, ibarat bening embun yang terperangkap di daun lusuh, kepulangan kita ke Idul Fitri melahirkan situasi ‘kesucian’ yang riskan.

Pribadi-pribadi boleh saja terlahir kembali bak embun suci, tetapi ruang publik tempat menjalani hidup  bersama boleh jadi relung yang cemar.

Di satu sisi, kita harus tetap menjaga sikap hidup yang positif dan optmis, sebab pemikiran negatif tak akan membawa kebaikan. Psikolog David D Burn mengingatkan bahwa depresi kejiwaan merupakan hasil pemikiran yang salah. Ketika seseorang atau suatu bangsa depresi oleh belenggu pesimisme, daya hidup dilumpuhkan oleh jeratan 4D—defeated (rasa pecundang), defective (rasa cacat), deserted (rasa ditinggalkan) dan deprived (rasa tercerabut)—yang dihayati sebagai kebenaran dan kenyataan sejati.

Di sisi lain, optimisme tersebut haruslah bersifat realisitis, bahwa kegembiraan tidaklah datang dengan sendirinya sebagai tiban. Tidak ada pencapaian tanpa usaha kesengajaan dan kegigihan.

Pelbagai krisis yang kita alami saat ini pada hakekatnya merupakan letupan permukaan dari krisis kebatinan karena kita mengabaikan olah jiwa.

Semoga dengan kembali ke fitrah manusia dan fitrah bernegara, kita bisa menemukan kembali tenaga batin yang dapat mengantarkan bangsa meraih kemenangan!

(Yudi Latif, Makrifat Lebaran)

(Ismed Eka Kusuma)