Pedagang melayani pembeli di pasar tradisional kawasan Tebet, Jakarta, Jumat (5/8). Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan peningkatan konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi terhadap perekonomian Indonesia pada triwulan II-2016 yang tumbuh hingga 5,18 persen (yoy). Konsumsi rumah tangga itu didukung oleh pemberian gaji 13 dan 14 oleh pemerintah yang dimanfaatkan pada perayaan Lebaran serta sebagai persiapan dalam menghadapi tahun ajaran baru. AKTUAL/TINO OKTAVIANO

Jakarta, Aktual.com – Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memang tidak menampik kemungkinan adanya pergeseran konsumsi dimana orang-orang lebih memilih untuk belanja ke e-commerce atau belanja online. Mesti itu tak salah, pihak Aprindo minta ke pemerintah atau pihak harus melihat fakta di lapangan.

“Data yang kami sodorkan itu tak mengada-ngada. Yang berat dialami ritel mini market. Karena kalau penjualan ritel mini market turun, berarti daya beli masyarakat bawah sedang anjlok. Itu kondisi yang terjadi di lapangan,” ujar Ketua Umum Aprindo, Tutum Rahanta dalam diskusi Anomali Perekonomian Indonesia, di Jakarta, Rabu (9/8).

Dia sendiri memaklumi ada pihak-pihak tertentu yang mencoba meng-counter data yang disodorkan dirinya dengan berdalih bahwa terjadi pergeseran konsumsi ke e-commerce.

“Analisa mereka tidak salah. Yang salah kesimpulannya. Kami ini pelaku di lapangan. Kalau disebut shifting (ke e-commerce). Itu betul. Tapi saya cek produknya, apa semua lewat online? Tidak,” kata dia geram.

Dia menegaskan, barang-barang yang dibeli lewat bisnis online itu hanya gadget dan fashion. Tapi tidak dengan makanan. Sementara kondisi di minimarket itu, dari 3.000 item produk kelas bawah ternyata tak laku.

“Apa orang mau beli mi instan tiga bungkus lewat online? Tidak dong keburu kelaparan. Dan produk seperti itu tidak di-online-kan. Mungkin susu bayi iya ada yang online, tapi produk itu sudah lama di-online-kan kok. Tapi kenapa daya belinya menurun sekarang?” tegas dia.

Menurutnya, penurunan penjualan akibat penurunan daya beli dialami tak hanya mini market tapi juga hyper market. Antara jenis barang untuk makanan dan non makanan ternyata pelemahannya tak jauh beda.

“Kalau untuk produk food, sekitar 5-10 persen pemerurunannya. Itu average. Sedang kalau di pakaian melemahnya sebanyak 5-20 persen. Tapi tidak merata. Ya angkanya sekitar 5-15 persen lah penurunannya,” kata dia.

Kondisi ini, kata dia, sebagai bentuk bantahan agar data yang disodorkan tak simpang siur.

“Jadi kondisinya, profit terus turun sedang omset tak naik,” ujarnya.

(Reporter: Busthomi)

(Ismed Eka Kusuma)