Jurnalis Joran Indonesia (Jojoners) saat persiapan buka bersama dengan warga pesisirdi Pelabuhan Karangantu, Serang, Banten, Sabtu (11/6). Kegiatan kali ini mendapat perhatian dari Wali Kota Serang, Tubagus Haerul Jaman. Kepedulian Jojoners terhadap sesama dilakukan setiap Ramadan dengan memberikan santunan Paket berupa uang, alat ibadah termasuk Al Quran dan Juzama serta buka puasa bersama masyarakat Pesisir Karangantu, Serang, Banten yang di dukung Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), Astra Internasional, XL Axiata, PT Langgeng Land, Indofood, Sinarmas, Garudafood, Mondelez, Aqua, dan Bank Mandiri.Dok/Jojoners

Jakarta, Aktual.com – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengajak umat Islam Indonesia untuk bersama-sama menjaga kesucian bulan puasa. Yakni dengan menjadikan Ramadan sebagai basis penguatan kualitas diri sebagai muslim, dan penguatan kebangsaan sebagai warga negara.

Menurutnya, secara terminologi kata ‘Ramadan’ dalam Bahasa Arab berasal dari kata dasar ‘ra-ma-dla’ yang berarti ‘membakar’. Hal ini bermakna bahwa Ramadan merupakan bulan untuk membakar hawa nafsu, amarah, murka, caci maki dan perilaku-perilaku destruktif lainnya.

Atas dasar itu, Lukman berharap Ramadan tidak dikotori dengan ujaran kebencian, caci-maki, menghina dan memfitnah. Baik dalam ruang sosial, lebih-lebih dalam ruang keagamaan.

“Jangan sampai ruang keagamaan, apalagi ruang ibadah, yang bersifat sakral itu dikotori dengan ujaran kebencian yang justru dapat menghilangkan kesucian dalam beribadah,” ujar Menag di Jakarta, Senin (22/05).

“Jadikan Ramadan ini sebagai ruang untuk bermuhasabah, mengevaluasi dan memperbaiki kualitas diri. Di samping dituntut untuk saleh secara individual, juga saleh secara sosial, serta mampu menjalin kedamaian di antara sesama umat manusia,” tambahnya.

Kemenag berharap ibadah puasa meningkatkan rasa kasih sayang terhadap sesama, serta sikap saling menghargai dan menghormati sesama. Sebab orang yang melakukan ibadah puasa tidak akan mendapatkan balasan apa pun jika dirinya tidak mampu membangun kedamaian dalam kehidupan sosialnya.

Dalam konteks kebangsaan, keagungan Ramadan hendaknya dimanifestasikan untuk memperteguh komitmen kebangsaan dalam merawat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berfalsafah Pancasila.

“Momentum Ramadan hendaknya dapat dijadikan sebagai pusat gerakan bersama dalam menegaskan dan meneguhkan kembali ideologi Pancasila sebagai basis membangun negara yang religius,” ujar Menag.

“Di samping menjadikan pribadi muslim yang paripurna, Ramadan diharapkan juga memperkuat komitmen kebangsaan sebagai warga negara,” tegasnya.

()