Jakarta, Aktual.com – Sheikh Abu Al Fadl Abdullah bin Muhammad bin Shiddiq Al Ghumari yang merupakan putra al Imam al Akbar Asy Syekh Abu Abdullah Muhammad bin Shiddiq al Ghumari ra menulis biografi atau riwayat hidup seorang ulama ahli hadist/muhaddist dari negeri Maroko yang merupakan pendiri dari thariqat Shiddiqiyah Syadziliyah.

Abu Abdullah Muhammad bin Shiddiq al Ghumari al-Hasani masih dari garis keturunan maulana Idris putra pertama dari Abdullah Ibn al Kamil putra dari al Hassan al-Mutsanna putra sayyidina Hasan Mujtaba putra Imam Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah.

Syekh Muhammad bin Shiddiq al Ghumari lahir pada tahun 1295 H dan diberi nama oleh ayahnya dengan nama “Muhammad al Manshur” sebuah nama yang membawa keberkahan dan pengaruh baginya. Dimana semasa hidupnya beliau Abu Abdullah Muhammad bin Shiddiq al Ghumari al-Hasani selalu manshur (menang/mendapat pertolongan) dari setiap musuh dan lawan-lawannya.

Baca Juga :  Pemerintah Arab Saudi Sepakat Tambah Kuota Haji Indonesia

Beliau Abu Abdullah Muhammad bin Shiddiq al Ghumari al-Hasani adalah penghafal Alquran dengan dua riwayat yaitu riwayat Warsy dan Hafs, ketika ayahnya al ‘Arif billah Sayyidi al Hajj Shiddiq ingin mengajarinya ilmu qiraat.

Ia sendiri mendapat petunjuk dari salah seorang ulama yang shaleh agar ia mengirimkannya ke kota Fez untuk menimba ilmu dan menghadiri majelis talaqidi Universitas al Qarawein. Di tempat itulah beliau mengaji atau berguru kepada banyak para ulama sepuh yang shaleh diantaranya adalah Syekh Sayyid Jafar al kattani.

Dan beliau mengambil baiat tarekat Syadziliyah Darqowiyah dari gurunya yaitu al ‘Arif billah Sheikh Assayyid Muhammad Bin Ibrahim Al-Fassi (seorang ulama besar yang makamnya di zawiyah Fez), beliau tinggal bersamanya untuk menghadiri pengajian dan mendalami suluk thariqahnya selama tiga tahun.

Kemudian ia kembali ke kampung halamannya dan pergi ke Tangier dengan maksud hendak melamar seorang gadis yang tak lain adalah putri dari pamannya sendiri yaitu al Arif Sidi Abdul Hafidz bin Ahmad bin Ahmad bin ‘Ajibah dan mendapatkan persetujuan atas pernikahannya dengan syarat ia harus mukim atau tinggal di Tangier.

Baca Juga :  Cabuli Siswi di Bawah Umur, Oknum Guru Honorer Diciduk Polisi

Beliau pun menetap disana dan menyebarkan thariqah dan menghidupkan pasar keilmuan paska melemahnya tradisi keilmuan di kampung tersebut.

Ia pun mengajar kitab Sahih Bukhari di Masjid Agung al A’dzam dengan metoda yang unik yang belum pernah dilakukan oleh para pendahulunya. Selain kitab hadist Bukhari, beliau juga mengajar Mukhtashar Khalil kitab pegangan fikih madzhab Maliki dan kitab Al Fiyah Ibn Malik sebagai panduan ilmu bahasa arab atau nahwu dan sharaf di masjid tersebut.

Dan beliau banyak mengisi pengajian pengajian di beberapa masjid lainnya dengan mengetengahkan materi seputar Sirah atau biografi Nabi Muhammad SAW dan materi pelajaran lainnya.

Baca Juga :  ISOMIL, Ikhtiar PBNU Mendamaikan Konflik dan Mengakhiri Radikalisme

Kemudian beliau mendirikan zawiyah di Tangier dan memakmurkannya dengan mengisi kajian tafsir Al-Qur’an. Beliau juga dikenal sebagai seorang hafidz dan dianugerahi memori yang sangat kuat, arahan dan didikannya melahirkan banyak para ulama, majelis ilmunya bagaikan raudah atau taman ilmu.

Beliau hanya memberikan thariqah kepada orang-orang yang mengunjunginya di rumahnya dan meminta ijazah berdasarkan keinginannya sendiri, namun demikian, meskipun ia tidak menyebarkan thariqahnya ke luar daerah, pengikut atau murid murid sangat banyak sekali terutama di kota Fez, Salé, Rabat, Casablanca, Zair Grand Palace, Larache, Tetouan, Angers, Bani Said dan ghumara.

Bahkan jumlah pengikut atau murid thariqah beliau di wilayah Tangeir lebih dari separuh jumlah penduduknya. Beliau adalah sosok syekh murabbi tertinggi yang dapat membimbing seorang murid untuk berkhalwat hingga mencapai Futuh dalam waktu yang singkat.

Laporan: Deden Sajidin

(Andy Abdul Hamid)