Bapak dari informasi bohong (hoax) itu adalah iblis. Ketika seseorang membuat hoax, maka sesungguhnya dia telah menjadi pengikut iblis. Sayangnya, yang kemudian meneruskan dan menyebarkan hoax itu ke mana-mana justru orang yang tulus, jujur, dan lugu.

Hal itu diucapkan oleh motivator nasional di bidang leadership dan happiness, Arvan Pradiansyah, kepada aktual.com di Jakarta, Senin (20/3). Arvan dimintai komentar sekitar mewabahnya hoax dan berita palsu, yang menyuburkan fitnah dan keresahan di media sosial dan media online. Hoax juga bertebaran pada masa kampanye pemilu, pilpres, dan pilkada, yang isinya menyerang kandidat-kandidat tertentu.

Menjelang putaran ke-2 Pilkada DKI Jakarta saat ini, hoax juga seperti mewabah, sehingga publik tak mudah lagi membedakan, mana berita benar dan berita ngawur. Begitu seriusnya dampak negatif hoax ini, sehingga Presiden Joko Widodo memberi perhatian khusus terhadap masalah hoax.

“Dalam sejarah kemanusiaan, makhluk pertama yang membuat hoax adalah iblis. Dialah yang mengelabui Adam dan Hawa untuk memakan buah terlarang, yang dikatakan akan membuatnya abadi. Adam dan Hawa dalam hal ini adalah korban hoax,” ujar Arvan, yang kini menjadi Managing Director di ILM (Institute for Leadership & Life Management).

Baca Juga :  Endang Supriyani: Tingkatkan Koordinasi Dalam Pembangunan Daerah Perbatasan

Menurut Arvan, hoax adalah ekses buruk dari kehadiran teknologi informasi dan komunikasi, serta kebebasan berekspresi. “Di satu sisi, kemajuan teknologi dan kebebasan berekspresi ini patut kita syukuri. Tapi di sisi lain, juga ada ekses yang harus kita waspadai. Apalagi kecenderungan saat ini, orang lebih percaya pada teman ketimbang pada pakar,” tuturnya.

“Orang menyebarkan hoax karena ingin memperkuat pendapatnya sendiri, bukan untuk mencari kebenaran. Hoax yang disebarkan adalah yang dianggap sesuai dengan pendapatnya sendiri atau mendukung kandidat pilkada yang memang ia sukai,” lanjut Arvan.

Arvan menunjukkan implikasi serius dari sikap itu. “Di sini, kita sudah mengubah definisi kebenaran. Sesuatu dianggap kebenaran jika mendukung keyakinan saya. Sedangkan sesuatu dianggap tidak benar jika tidak mendukung keyakinan saya,” jelasnya.

“Padahal dasar dari masyarakat yang beradab adalah kebenaran. Kebahagiaan itu juga selalu berhubungan dengan kebenaran. Tuhan mendesain diri kita dengan prinsip-prinsip kejujuran. Kejujuran itu sudah menyatu dalam diri kita,” kata Arvan.

Baca Juga :  Kemenhub Sebut Johanes Meninggal Bukan Karena Kegiatan Diklat

Arvan menyebutkan, ada tiga saringan dalam melihat informasi, agar tidak jadi korban dan penyebar hoax. Pertama, apakah informasi itu benar. Untuk tahu benar-tidaknya, kita harus melihat dari sumber beritanya, apakah kredibel dan bisa dipercaya.

Kedua, apakah informasi itu baik. Sekalipun informasi itu benar, jika akan berdampak tidak baik, jangan disebarkan. Ketiga, apakah informasi itu berguna atau diperlukan. Jika sudah benar dan baik, tetapi tidak berguna, tak usah disebarkan.

Mengenai fenomena penyebaran hoax, Arvan melihat tidak diterapkannya etika jurnalistik sebagai salah satu penyebab. Di masa dulu, yang membuat berita di media massa adalah jurnalis. Mereka paham tentang teknis menulis berita, kaidah 5W+1H, membedakan fakta dengan opini, cek dan ricek, serta melakukan cover both sides.

Namun saat ini, dengan merebaknya jurnalisme warga atau citizen journalism, semua orang bisa menjadi jurnalis dan menyebarkan berita. Kaidah-kaidah yang dulu harus dipahami ketika seseorang mau menjadi jurnalis, kini tidak berlaku lagi.

Baca Juga :  Puluhan Lapak di Pasar Lhoksukon Terbakar

“Bahkan kaidah-kaidah yang paling dasar dari jurnalistik pun tidak ia pahami. Ini berbahaya,” ujar Arvan, yang dulu mempelajari Ilmu Komunikasi ketika kulian S-1 di Universitas Indonesia.

Dampaknya, terjadi ketidakjelasan antara berita benar dan salah. Padahal, dasar dari kehidupan adalah kemampuan membedakan benar dan salah. “Di level pertama dan paling bawah, hidup itu harus benar (life is right). Kemudian, hidup itu harus baik (life is good). Dan yang lebih tinggi lagi, hidup itu indah (life is beautiful),” kata Arvan.

“Kebahagiaan juga selalu berhubungan dengan kebenaran. Dasar bagi masyarakat yang beradab adalah kebenaran. Hidup itu harus benar. Jika sudah benar, barulah kita bisa naik ke level lebih tinggi, bahwa hidup itu baik. Dan kemudian di level tertinggi, hidup itu menjadi indah,” jelasnya.

Arvan kini menjadi narasumber tetap untuk talk show Smart Happiness, yang disiarkan di SmartFM Network setiap Jumat pukul 7.00-8.00 WIB. Siaran itu disambungsiarkan ke lebih dari 30 kota di Indonesia. ***

()