BAGIKAN

Sukabumi, Aktual.com – Kawanan Owa Jawa (Hylobates moloch) turun ke permukiman warga di Blok Mahoni, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, akibat rusaknya hutan yang merupakan habitat satwa dilindungi undang-undang tersebut.

“Sudah beberapa kali Owa Jawa ini turun ke permukiman di Kecamatan Lengkong, namun kali ini warga sekitar hidup berdampingan dengan primata yang satu ini,” kata Aktivis Pusat Penyelamatan Satwa Cikanangan (PPSC) Sukabumi Budiharto di Sukabumi, Jumat (21/4).

Menurutnya, kondisi hutan yang rusak parah akibat penebangan liar tersebut menyebabkan habitat Owa ini tergeser dan rusak. Karena sulitnya mendapatkan makanan di hutan yang sudah mulai gundul tersebut akhirnya kawanan primata ini turun ke permukiman warga.

Bahkan pihaknya pernah memindahkan beberapa Owa Jawa ke habitat barunya yang lebih aman karena rawan terjadi perburuan liar. Apalagi saat ini primata ini sudah hidup berdampingan dengan manusia, khawatir ada oknum yang memburunya.

Di Blok Mahoni ini ada tujuh ekor yang merupakan satu keluarga hidup berselaras dengan manusia, setiap harinya kawanan primata ini turun ke permukiman warga menunggu makanan berupa buah-buahan dan sayuran yang diberikan masyarakat sekitar.

Selain itu, semakin tergusurnya habitat satwa endemik ini menjadi perhatian aktivis lingkungan hidup asal Jerman. Mereka datang ke Blok Mahoni yang didampingi aktivis PPSC melihat kondisi Owa Jawa yang tinggal di area perkebunan dekat permukiman warga.

“Kami khawatir Owa Jawa ini menjadi target buruan, sehingga perlu adanya penanganan khusus salah satunya dipindahkan ke tempat yang lebih aman,” kata aktivis lingkungan hidup asal Jerman Inge Tielen.

Sementara, salah seorang warga sekitar Tini Kasmawati mengatakan ia dan warga lainnya berdampingan hidup bersama Owa Jawa. Awalnya primata ini turun dari hutan ke perkebunan dan kian hari semakin mendekat karena tidak adanya persediaan makanan.

“Kami yang merasa kasihan dengan kawanan Owa Jawa tersebut setiap harinya selalu memberikan makan baik berupa sayuran maupun buah-buahan,” katanya.

 

Ant.

(Zaenal Arifin)