Jakarta, Aktual.com – ‘Jual-beli’ serangan mewarnai debat putaran kedua Pilkada DKI Jakarta 2017. Dalam sesi tanya jawab, perdebatan panas terjadi pada pasangan calon (paslon) nomor urut dua Basuki Tjahaja Purnama – Djarot Saiful Hidayat dengan paslon nomor urut tiga, Anies Baswedan – Sandiaga Uno.

Perizinan reklamasi dan kontribusi tambahan atau yang familiar disebut ‘perjanjian preman’ pengembang reklamasi Teluk Jakarta menjadi topik bahasan tersendiri.

Awalnya, calon wakil gubernur Sandiaga Uno menyindir petahana terkait mega proyek reklamasi di Teluk Jakarta. Proyek tersebut dinilainya tidak adil karena tidak memikirkan nasib nelayan yang ada di pesisir utara Ibukota.

Mendapati pernyataan Sandi, Ahok yang diberi kesempatan menanggapi mengungkapkan bahwa proyek reklamasi sebenarnya sudah ada sejak era Presiden Soeharto. Izin pelaksanaan reklamasi yang dikeluarkan hanya meneruskan kebijakan pendahulunya.

Proyek reklamasi ini diputuskan melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 52 tahun 1995 tentang Reklamasi Pantai Utara Jakarta.

“Banyak orang yang menuduh kami tak bela orang miskin, nelayan. Banyak yang tak tahu pulau reklamasi itu sudah ada dari zaman Pak Harto,” terang Ahok.

Ditekankan pula bahwa pulau hasil reklamasi di Pantai Utara Jakarta sepenuhnya milik Pemerintah Propinsi DKI. Apalagi 5 persen luas tanah dari pulau hasil reklamasi menjadi hak Pemprop DKI.

Pernyataan Ahok yang menyebut reklamasi sudah dirancang sejak era Soeharto ini kemudian ditanggapi Anies. Ia menyatakan bahwa korupsi juga ada sejak masa lalu, makanya harus dipikirkan apakah semua yang berasal dari masa lalu harus selalu diteruskan.

“Korupsi sudah dimulai dari zaman dulu, apakah mau diteruskan? Apakah yang dari masa lalu harus diteruskan,” tandasnya.

Debat putaran kedua Pilkada DKI Jakarta 2017 diketahui digelar di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Jumat (27/1) malam. Debat dipandu moderator Tina Talisa dan Eko Prasojo serta panelis Siti Zuhro, Tulus Abadi dan Gunawan Tjahjono.

(Fadlan Syam Butho)

Artikel ini ditulis oleh: